Pertumbuhan dan Perkembangan Anak

oleh: dr. Yuliana

Anak saya kok rasanya kurus sekali ya, jangan-jangan kekurangan gizi? Atau anak saya kok masih belum bisa mengangkat kepala? Lho, anaknya bu santi sudah bisa berjalan, anak saya merangkak saja belum.. Normal tidak sih??? Seringkali pertanyaan-pertanyaan itu yang muncul seiring dengan tumbuh kembang anak, oleh karena itu dalam artikel di bawah ini akan dibahas secara singkat mengenai pertumbuhan dan perkembangan anak dalam tahun-tahun pertama kehidupannya.

Definisi pertumbuhan dan perkembangan

Pertumbuhan (growth) ialah bertambahnya ukuran dan jumlah sel serta jaringan interseluler, berarti bertambahnya ukuran fisik dan struktur tubuh dalam arti sebagian atau keseluruhan. Bersifat kuantitatif sehingga dapat diukur dengan mempergunakan satuan panjang dan berat.

Perkembangan (development) ialah bertambahnya kemampuan struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks, jadi bersifat kualitatif yang pengukurannya jauh lebih sulit daripada pengukuran pertumbuhan.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan mempunyai dampak terhadap aspek fisik, sedangkan perkembangan berkaitan dengan pematangan fungsi organ/individu. Dimana keduanya berjalan secara berkesinambungan dalam tubuh manusia. Terdapat dua faktor utama yang paling berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak, yaitu faktor genetik dan faktor lingkungan.

Penilaian pertumbuhan dan perkembangan anak

Penilaian tumbuh kembang anak secara medis atau secara statistik diperlukan untuk mengetahui apakah seorang anak tumbuh dan berkembang normal atau tidak. Anak yang sehat akan menunjukkan tumbuh kembang yang optimal apabila diberikan lingkungan bio-fisiko-psikososial adekuat.

Parameter ukuran antropometrik yang dipakai pada penilaian pertumbuhan fisik, antara lain tinggi badan, berat badan, lingkaran kepala, lingkaran dada, lipatan kulit, lingkaran lengan atas, panjang lengan (arm span), proporsi tubuh/perawakan, dan panjang tungkai. Penilaian pertumbuhan dimulai dengan memplot hasil pengukuran tinggi badan, berat badan pada kurva standar (misalnya NCHS, Lubschenko, Harvard, dan lain sebagainya), sejak dalam kandungan (intra uterin) hingga remaja.

Sedangan penilaian perkembangan anak pada fase awal umumnya dibagi menjadi 4 aspek kemampuan fungsional, yaitu motorik kasar, motorik halus dan penglihatan, berbicara, bahasa dan pendengaran serta sosial emosi dan perilaku. Salah satu alat untuk skrining yang dipakai secara internasional, yaitu DDST (Denver Developmental Screening Test) disebut sebagai Denver II dengan menggunakan pass-fail ratings pada 4 ranah perkembangan, yaitu personal-social, fine motor adaptive, language, dan gross motor untuk anak sejak lahir sampai usia 6 tahun.

KMS (Kartu Menuju Sehat) merupakan alat yang penting untuk memantau tumbuh kembang anak. Aktifitasnya tidak hanya menimbang dan mengukur saja, tetapi harus menginterpretasikan tumbuh kembang anak kepada ibunya. KMS yang ada di Indonesia pada saat ini berdasarkan standar Harvard, dimana 50 persentil baku Harvard dianggap 100%. Seminar Antropometri di Ciloto 1991 merekomendasikan untuk menggunakan baku NCHS untuk menggantikan baku Harvard yang secara internasional mulai berkurang penggunaannya.

Berikut rumus untuk memperkirakan berat badan dan tinggi badan normal pada bayi dan anak:

Berat Badan (Kilogram)
Lahir 3,25
3-12 bulan Usia (bulan) + 9

2

1-6 tahun Usia (tahun) x 2 + 8
7-12 tahun Usia (tahun) x 7 – 5

2

Tinggi Badan (Centimeter)
Lahir 50
1 tahun 75
2-12 tahun Usia (tahun) x 6 + 77

Beberapa ukuran yang perlu diketahui sebagai patokan:

Berat badan (BB)

Rata-rata lahir normal                    3.000-3.500 gr

Umur 5 bulan                                     2x berat badan lahir

Umur 1 tahun                                    3x berat badan lahir

Umur 2 tahun                                    4x berat badan lahir

Kenaikan berat badan pada tahun pertama kehidupan:

–          700-1000 gram/bulan pada triwulan I

–          500-600 gram/bulan pada triwulan II

–          350-450 gram/bulan pada triwulan III

–          250-350 gram/bulan pada triwulan IV

Pada masa pra sekolah kenaikan BB rata-rata 2 kg/tahun.

Tinggi badan (TB)

Rata-rata lahir normal                    50 cm

Umur 1 tahun                                    1,5 x TB lahir

Umur 4 tahun                                    2 x TB lahir

Umur 6 tahun                                    1,5 x TB setahun

Umur 13 tahun                                  3 x TB lahir

Dewasa                                                3,5 x TB lahir (2 x TB setahun)

Sedangkan untuk perkembangan anak, banyak “milestone” perkembangan anak yang penting, tetapi di bawah ini akan disajikan beberapa “milestone” pokok yang harus kita ketahui dalam mengetahui taraf perkembangan seorang anak (yang dimaksud dengan “milestone” perkembangan adalah tingkat perkembangan yang harus dicapai anak pada umur tertentu), misalnya:

Umur Milestone” perkembangan
4-6 minggu Tersenyum spontan, dapat mengeluarkan suara 1-2 minggu kemudian
12-16 minggu –          Menegakkan kepala, tengkurap sendiri

–          Menoleh ke arah suara

–          Memegang benda yang ditaruh di tangannya

20 minggu Meraih benda yang didekatkan kepadanya
26 minggu –          Dapat memindahkan benda dari satu tangan ke tangan lainnya

–          Duduk, makan dengan bantuan kedua tangannya ke depan

–          Makan biskuit sendiri

9-10 bulan –          Menunjuk dengan jari telunjuk

–          Memegang benda dengan ibu jari dan telunjuk

–          Merangkak

–          Bersuara da… da…

13 bulan –          Berjalan tanpa bantuan

–          Mengucapkan kata-kata tunggal

Dengan kita mengetahui berbagai “milestone” pokok ini, maka kita dapat mengetahui apakah seorang anak perkembangannya terlambat ataukah masih dalam batas-batas normal.

Dengan mempelajari tumbuh kembang anak ini diharapkan kita dapat menjaga agar seorang anak dapat tumbuh dan berkembang melalui tahap-tahap pertumbuhan dan perkembangan, baik secara fisik, mental, emosi dan sosial sesuai dengan potensi yang dimilikinya agar menjadi manusia dewasa yang berguna.

Sumber:

  1. Kliegman, Robert M., etc. 2007. Nelson Textbook of Pediatrics 18’th Edition. United States of America: Elsevier.
  2. Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2002. Buku Ajar I Tumbuh Kembang Anak dan Remaja Edisi Pertama. Jakarta: Sagung Seto.
  3. Soetjiningsih, dr. 1994. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta: EGC.
Advertisements

Jadwal Imunisasi 2008 (IDAI)

jadwal-imunisasi-2008-online1sumber: satgas imunisasi IDAI 2008

Kejadian Meningitis Bakterial pada Kejang Demam Sederhana

Menurut anjuran American Academy of Pediatric (AAP) sejak tahun 1996, pungsi lumbal sangat dianjurkan untuk dilakukan pada anak berusia di bawah 12 bulan dengan kejang demam sederhana pertama kali (first simple febrile seizure), dianjurkan pada anak berusia 12-18 bulan, dan dipertimbangkan pada anak berusia di atas 18 bulan yang dicurigai menderita meningitis. Hal ini berdasarkan alasan bahwa kejang seringkali merupakan manifestasi dari bakterial meningitis dan seringkali diagnosa meningitis sulit ditegakkan pada anak-anak di bawah 12 bulan akibat tanda-tandanya yang tidak jelas.

Akan tetapi, penelitian terbaru dalam jurnal Pediatrics yang berjudul Utility of Lumbar Puncture for First Simple Febrile Seizure Among Children 6 to 18 Months of Age yang dipublikasikan pada tahun 2009, membuat kebijakan ini perlu dipertanyakan lagi..

Sebuah penelitian retrospektif dilakukan pada 260 pasien usia 6-18 bulan yang dirawat di sebuah pediatric emergency department Children’s Hospital Boston, Massachusetts antara bulan Oktober 1995 sampai Oktober 2006 dengan diagnosa kejang demam sederhana pertama kali yang kemudian dilakukan lumbal pungsi dan pemeriksaan cairan serebrospinal (cerebrospinal fluid / CSF). Diagnosa bakterial meningitis ditegakkan bila:
1.Didapatkan pertumbuhan bakteri patogen pada kultur CSF setelah 1 minggu
2.Didapatkan CSF pleositosis (didapatkan leukosit pada CSF > 7sel/mm3) dan kultur darah (+) bakteri patogen
3.Pada pewarnaan gram CSF didapatkan bakteri patogen
Dan hasil akhirnya, tidak didapatkan satupun kultur CSF yang (+) bakteri patogen, dan tidak didapatkan pertumbuhan bakteri patogen pada kultur darah pada 10 pasien dengan CSF pleositosis.

Namun, jangan senang dulu..
Ini terjadi di Amerika dengan latar belakang cakupan vaksinasi lengkap untuk meningitis sebesar 98%. Sedangkan untuk Indonesia???
Berdasarkan diskusi dalam jurnal ini, meskipun bakterial meningitis menimbulkan morbiditas dan kematian yang tinggi, tetapi vaksinasi yang efektif dinilai cukup signifikan untuk menurunkan kemungkinan terjadinya meningitis bakterial pada anak.
Sebagai kesimpulannya, karena ternyata risiko terjadinya meningitis bakterial pada anak usia 6-18 bulan dengan kejang demam sederhana pertama kali sangat rendah, maka kebijakan dilakukannya lumbal pungsi perlu ditinjau kembali. Disarankan, sebaiknya lumbal pungsi dipertimbangkan dan dilakukan pada anak-anak yang jelas menunjukkan gejala dan tanda yang mengarah ke meningitis bakterial, misalnya kejang fokal atau kejang berulang, petechial rash, dan nuchal rigidity.

Sumber:
Kimia, Amir A. 2009. Utility of Lumbar Puncture for First Simple Febrile Seizure Among Children 6 to 18 Months of Age. (Online). (http://www.pediatrics.org/cgi/content/full/123/ 2/1/6, diakses tanggal 20 Pebruari 2009).

Chikungunya di Kota Malang Mengalahkan Demam Berdarah

RADAR MALANG Sabtu, 13 Maret 2009

MALANG – Chikungunya menyerang kota Malang. Sedikitnya 109 warga RW 2 dan RW 3 Kelurahan Bareng menderita penyakit akibat gigitan nyamuk chikungunya itu. Bahkan jumlah ini melebihi angka kejadian demam berdarah. Kadinkes kota Malang, Enny Sekar Rengganingati langsung menyatakan chikungunya itu sebagai kejadian luar biasa (KLB)………………………..

Demam chikungunya merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus chikungunya yang merupakan anggota genus Alphavirus dalam family Togoviridae. Disebarkan dengan perantaraan nyamuk Aedes aegepty. Vektor lainnya A. albopictus. Di Afrika disebarkan melalui A. furcifer dan A. africanus.

Infeksi virus Chikungunya onsetnya akut dan manifestasi klinisnya sangat bervariasi. Gejala muncul dalam 4-7 hari setelah masa inkubasi selama 1-12 hari. Pada sebagian besar kasus dapat sembuh sendiri dan diikuti dengan perbaikan gejala dan tanda dalam 5-7 hari walaupun tanpa terapi. 2,4,5

picture2Trias klinis yaitu demam, ruam kemerahan, dan atralgia khas untuk demam Chikungunya. Manifestasi demam bervariasi, dari demam timggi (lebih dari 40 °C) sampai demam yang tidak terlalu tinggi. Suhu dapat meningkat cepat dan kadang-kadang disertai sakit kepala berat, menggigil, mual serta muntah. Demam ini dapat membaik dan kemudian muncul kembali setelah 1-2 hari bebas demam (saddle back fever). Poliatralgia disertai mialgia merupakan gejala khas penyakit ini. Nyeri sendi ini biasanya sangat berat (nyeri bila disentuh), menyebabkan imobilisasi dan menyebabkan pasien tidak dapat tidur selama beberapa hari setelah onset penyakit. Gerakan sendi menyebabkan nyeri hebat sehingga pasien terpaksa membungkuk. Poliartritis yang berpindah-pindah (migratory) biasanya mengenai sendi kecil pada tangan, pergelangan tangan, pergelangan kaki (ankle), dan kaki. Ruam makulopapular dan perdarahan gusi jarang ditemukan pada pasien dewasa (lebih sering pada anak). Ruam kemerahan biasanya muncul pada batang tubuh (trunk) atau pada permukaan ekstensor ekstremitas dan biasanya gatal. Petekie juga dapat ditemukan pada penyakit ini.

Gejala yang muncul pada demam chikungunya ini seringkali menyerupai demam berdarah dengue tetapi tidak menyebabkan perdarahan hebat, renjatan, maupun kematian.

Komplikasi demam Chikungunya adalah myelomeningoensefalitis, sindrom guillain Barre, hepatitis fulminan, miokarditis, dan perikarditis (jarang). Infeksi asimptomatik sering terjadi dan ini menyebabkan terbentuknya imunitas terhadap virus (tidak ada serangan kedua).1

Pada pemeriksaan darah tidak didapatkan kelainan yang khas. Paling sering ditemukan lekopenia dengan predominan limfosit, jarang ditemukan trombositopenia. LED biasanya meningkat. CRP juga meningkat selama fase akut dan dapat bertahan tinggi selama beberapa minggu. Beberapa persen pasien dapat menunjukkan hasil positif pada pemeriksaan faktor rheumatoid selama dan sesudah periode penyakit.

Untuk menegakkan diagnosis demam chikungunya dapat dilakukan isolasi virus, PCR, deteksi antibody IgM dan peningkatan titer antibody IgG. Virus Chikungunya dapat diisolasi dari cairan otak atau kultur virus pada nyamuk atau struktur sel mamalia yang terinfeksi. Antibodi IgM yang diperiksa dengan ELISA dapat muncul dalam dua minggu. Tidak disarankan memeriksa antibody pada minggu pertama. Pada beberapa orang, antibody IgM dapat muncul pada enam sampai duabelas minggu hingga jumlahnya cukup untuk dideteksi dengan ELISA.

Penatalaksanaan demam Chikungunya secara umum dibagi dua, yaitu tata laksana periode akut dan kronik.

Tatalaksana Periode Akut

1. Rawat jalan

Pada perawatan di rumah, yang harus dilakukan adalah istirahat yang cukup, membatasi kegiatan fisik, kompres dingin (membantu mengurangi kerusakan sendi), minum banyak air dengan elektrolit ( setidaknya 2 liter cairan dalam 24 jam), bila mungkin produksi kencing harus diukur dan lebih dari satu liter dalam 24 jam. Demam diatasi dengan paacetamol pada pasien tanpa penyakit ginjal dan hati. Bila demam lebih dari lima hari, nyeri tidak tertahankan, ketidakseimbangan postural dan ekstremitas dingin, penurunan output urin, perdarahan kulit atau melalui lubang manapun dan muntah terus menerus, pasien harus datang ke sarana kesehatan primer.

2. Sarana kesehatan primer

Kemungkinan diagnosis banding yang lain misalnya leptospira, demam denge, malaria dan penyakit lain harus disingkirkan dengan anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium dasar. Harus dicari tanda dehidrasi dan dilakukan rehidrasi dengan adekuat. Dilakukan pemeriksaan darah untuk melihat lekosit dan trombosit. Pengobatan lain merupakan simptomatis dengan paracetamol sebagai antipiretik. Manifestasi kulit dapat diatasi dengan obat topical atau sistemik. Bila hemodinamik tidak stabil, oligouria ( urin < 500 cc/24 jam), perubahan kesadaran atau manifestasi perdarahan, pasien harus segera dirujuk ke sarana kesehatan yang lebih tinggi. Demam dapat memperburuk nyeri sendi, sehingga sebaiknya dihindari dalam fase akut. Aktivitas ringan dan fisioterapi direkomendasikan bagi pasien yang mengalami perbaikan klinis.

3. Sarana kesehatan sekunder

Harus diperiksa sampel darah untuk serologi IgM ELISA. Sebagai alternative dapat diperiksa IgG diikuti dengan pemeriksaan sampel kedua dengan jarak 2-4 minggu. Tanda gagal ginjal harus diperhatikan (jumlah urin, kreatinin, natrium dan kalium), fungsi hati (transaminase dan bilirubi), EKG, malaria (hapusan darah tepi) dan trombositopenia. Pemeriksaan cairan serebrospinal harus dilakukan bila dicurigai terdapat meningitis. Dapat digunakan sistem scoring CURB 65 untuk penentuan perlu tidaknya rujukan ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi.

4. Sarana kesehatan tersier

Harus diperiksa sampel darah untuk serologi/PCR/pemeriksaan genetic sesegera mungkin bila fasilitas tersedia. Pertimbangkan kemungkinan penyakit rematik lain seperti rematoid arthritis, gout, demam rematik pada kasus-kasus yang tidak biasa. Dapat diberikan terapi NSAID. Pada komplikasi serius berupa perdarahan transfusi trombosit pada perdarahan dengan trombosit kurang dari 50ribu, fresh frozen plasma atau injeksi vitamin K bila INR lebih dari dua. Hipotensi diatasi dengan cairan atau intropik gagal ginjal akut dengan dialysis, kontraktur dan deformitas dengan fisioterapi atau bedah dan manifestasi kulit dengan obat topical atau sistemik. Pasien dengan mioperikarditis atau meningoensefalitis mungkin membutuhkan perawatan intensif di ICU. Pada kasus atralgia yang refrakter terhadap obat lain dapat digunakan hidroksiklorokuin 200mg per oral sekali sehari atau klorokuifosfat 300mg per oral tiap hari selama 4 minggu. Perlu dinilai adakah kecacatan dan direncanakan prosedur rehabilitasi.

Tatalaksana Fase Kronik

1. Tatalaksana Masalah Osteoartikular

Masalah osteoartikular pada demam chikungunya biasanya membaik dalam satu sampai dua minggu. Pada kurang dari 10% kasus, masalah ini dapat berlangsung dalam beberapa bulan.

Tatalaksana manifestasi osteoartikular mengikuti guideline yang telah dibahas sebelumnya. Karena dapat terjadi proses imunologi pada kasus kronik dapat diberikan steroid jangka pendek. Walaupun NSAID meringankan gejala pada sebagian besar pasien harus diperhatikan juga efek samping pada ginjal, gastrointestinal, jantung, dan sumsum tulang. Kompres dingin dilaporkan dapat mengurangi keluhan sendi.

2. Tatalaksana Masalah Neurologis

Sekitar 40% pasien dengan demam chikungunya akan mengeluhkan berbagai gejala neurologi tetapi hanya 20% diantaranya mengalami manifestasi persisten. Keluhan paling umum adalah neuropati perifer dengan komponen sensoris dominan. Obat antineuralgi (amitriptilin, carbamazepin, gabapentin) dapat diberikan pada dosis standar untuk neuropati. Keterlibatan ocular selama fase akut pada kurang dari 0.5% kasus dapat menyebabkan penurunan visus dan nyeri mata. Penurunan visus karena uveitis atau retinitis dapat berespon terhadap steroid.

3. Tatalaksana Masalah Dermatologi

Manifestasi kulit demam chikungunya berkurang setelah fase akut terlewati. Namun apabila terjadi lesi psoriatic dan lesi atopic diperlukan tatalaksana spesifik. Hiperpigmentasi dan erupsi popular dapat diobati dengan krim zinc oxide. Jarang terjadi luka persisten.

4. Tatalaksana Masalah Psikosomatis

Masalah emosional dilaporkan terjadi pada 15% kasus.

Sumber:

Karmat S, Das AK. Chikungunya. JAPI: 2006; 54: 725-727.

WHO. Guidelines on Clinical Management on Chikungunya Fever. October 2008.

Widodo, Djoko. 2007. Diagnosis dan Penatalaksanaan Chikungunya. Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM.

Wilson Mary. Chikungunya on Three Continents. (Online). (http://infectious-diseases.jwatch. org/cgi/content/full/2008/227/2, diakses 26 Pebruari 2009).

Yulvi H. Rapid Detection of Chikungunya Virus by PCR. USU Repository 2006.

Hati-Hati dengan “Pulled Elbow”

Oleh: dr. Yuliana

Sedikit berbagi pengalaman dengan pembaca blog saya. Kemarin saya mengantar keponakan saya yang baru berusia 5 tahun ke dokter karena tangan kanannya tidak bisa digerakkan dan bengkak di sikunya. Awal kejadiannya adalah saat ponakan saya ditarik tangannya oleh ayahnya (lihat ilustrasi). Setelah dibawa ke dokter, ponakan saya didiagnosa menderita “pulled elbow”. Karena penasaran dengan penyakit tersebut, saya pun mencari info tentang pulled elbow di google dan di buku Orthopedi/bedah tulang milik teman saya. Berikut penjelasannya secara singkat.

pulled_elbow_khi_rchnurse

“Pulled elbow” seringkali disebut dengan “nursemaid elbow” adalah suatu trauma pada sendi siku anak-anak, dimana terjadi robekan pada ligamen (struktur yang menghubungkan tulang dengan tulang) pada tulang radius/tulang hasta (lihat gambar) sehingga tulang radius akan lepas dari sendi siku (mengalami dislokasi). Akibatnya anak akan kesakitan saat berusaha menggerakkan tangannya, bahkan enggan untuk menggerakkannya sama sekali. “Pulled elbow” hanya terjadi pada anak kecil, karena lemahnya ligamen pada tulang radius tersebut.

Pertolongan pertama yang dapat anda lakukan adalah jangan memaksa anak untuk meluruskan siku. Segera bawa anak anda ke dokter atau ke unit gawat darurat untuk mendapatkan pertolongan. Semoga tulisan singkat ini bisa membuat pembaca lebih berhati-hati dengan anak anda.

Komunikasi Dokter – Pasien

patient-doctors_komunikasi1

Seorang dokter dituntut karena dugaan malpraktik sudah menjadi berita umum saat ini. Seakan menunggu waktu kapan seorang dokter akan ‘ketiban apes’ atau dengan kata lain kapan seorang dokter akan mengalami giliran dituntut akibat tindakan yang dikabarkan malpraktik, walaupun sebenarnya belum tentu benar.

Mengapa hal ini bisa terjadi??

Dalam sebuah tulisan berjudul Komunikasi: Fondasi Hubungan Dokter dan Pasien (Ethical Digest No 56 Thn VI Oktober 2008, hal 68-74), Dr. JB Suharjo B Cahyono, penulis buku Membangun Budaya Keselamatan Pasien Dalam Praktik Kedokteran menjelaskan mengenai beberapa hal yang berkaitan dengan masalah ini.

Komunikasi kurang mendapat perhatian

Menurut laporan Joint Commission on Accreditation of Healthcare Organizations (JCAHO), dari hasil evaluasi 2840 kasus sentinent event (kejadian yang tak diharapkan fatal) dapat disimpulkan bahwa 65% akar penyebab masalah adalah faktor komunikasi. Komunikasi ini menyangkut banyak hal, komunikasi antar petugas kesehatan sebagai satu tim, komunikasi dokter dengan petugas kesehatan lainnya, dan komunikasi dokter dengan pasien.

Dalam praktik kedokteran, komunikasi sering kurang mendapat perhatian dari para tenaga kesehatan yang lebih mengutamakan ketrampilan klinis, ketimbang meluangkan waktu untuk melakukan komunikasi yang efektif. 54% pasien mengeluh, dan 45% pasien minta perhatian, tidak mendapat tanggapan dokter. Bahkan studi lain mengatakan dalam 18 detik pasien mengungkapkan problemnya, dokter menyela ungkapan pasien.

Dalam pembahasan kali ini akan lebih diutamakan mengenai komunikasi dokter dan pasien. Dalam hubungan dokter – pasien, hal penting yang perlu mendapat perhatian, yaitu bagaimana dokter menempatkan otonomi pasien sebagai individu khususnya dalam pengambilan keputusan medis. Konsekuensinya adalah bagaimana dokter membangun keharmonisan hubungan tersebut melalui komunikasi. Hubungan dokter dan pasien pasti dilandasi dengan komunikasi, kecuali pada pasien tidak sadar, meskipun demikian komunikasi tetap berjalan, paling tidak dengan keluarga pasien.

Ketidakseimbangan hubungan dokter – pasien

Ketidakseimbangan ini menyangkut pada hubungan dokter dan pasien yang bersifat paternalistik asimetris dan ketidakpastian dalam praktik kedokteran. Paternalistik berarti otonomi pasien berada di bawah bayang-bayang dokter, dokter bebas menentukan tindakan terhadap pasien. Hal ini akan memberi lebih banyak peluang bagi dokter untuk melakukan kesalahan medis. Karena pasien tidak bersikap kritis dan tidak menuntut lebih banyak, lebih bersikap menerima, maka dokter cenderung memberikan pelayanan “apa adanya”. Asimetris berarti tidak seimbang, ada kesenjangan pengetahuan dan ketrampilan, ada perbedaan sudut pandang antara dokter dan pasien. Selama ini, pasien beranggapan bahwa kedokteran modern saat ini mampu menjawab segala persoalan media, dengan teknologi yang super canggih, mampu “melihat” apa yang ada di dalam tubuh. Pasien lebih melihat dari aspek hasil daripada proses, yang penting sembuh dan bukan sebaliknya. Sedangkan dari sudut pandang dokter, dokter lebih berorientasi pada proses. Berusaha melakukan tindakan medis terbaik, menurut ukuran standar medis yang telah diuji ilmiah (evidence based), hasil pengobatan tidak dapat dipastikan. Ilmu kedokteran dibangun berdasarkan gabungan antara science (ilmu pengetahuan) dan art (seni). Bukan 100% ilmu pasti. Dalam praktik kedokteran, ada area abu-abu (grey zone), daerah yang masih tidak diketahui dan mengandung ketidakpastian.

Pengaruh hubungan dokter dan pasien terhadap proses penyakit

Komunikasi yang efektif memungkinkan seorang dokter untuk mendapatkan data klinis yang lebih lengkap, sehingga memudahkan dalam penentuan diagnosis, dan akan membuahkan suatu kepercayaan dan keyakinan diri pasien terhadap dokter. Kepercayaan dan keyakinan pasien terhadap dokter akan membantu proses penyembuhan.

Komunikasi yang efektif membantu penyembuhan

Seperti yang disebutkan oleh Leventhal, interaksi hubungan dokter dan pasien yang dijalin melalui komunikasi yang efektif dapat mempengaruhi proses penyembuhan. Apa yang dibutuhkan oleh pasien adalah proses perawatan yang mencakup perawatan fisik, perilaku, kognitif, dan emosi. Dari berbagai penelitian disimpulkan bahwa komunikasi yang baik akan meningkatkan status kesehatan dan meningkatkan efisiensi perawatan. Komunikasi yang tidak berjalan baik seringkali menjadi faktor pendorong pasien mengajukan gugatan hukum bila di kemudian hari pasien mengalami KTD (kejadian tidak diharapkan).

Paternalisme menjadi Partnership

Pola paternalistik digantikan dengan pola hubungan yang bersifat partnership atau patient-centered care, yaitu pola perawatan kesehatan yang berorientasi pada pemenuhan keinginan dan kebutuhan pasien. Ungkapan ”dokterlah yang paling tahu, maka lakukan saja apa kata dokter” sudah waktunya untuk dihilangkan dari pikiran kita. Sekarang sudah jamannya dimana konsep otonomi dalam hubungan dokter – pasien dikembangkan. Pasien memiliki otonomi penuh atas dirinya. Pasien berhak menentukan keputusan medis yang akan dia terima. Ia bebas menerima atau menolak tindakan medis yang ditawarkan oleh dokternya. Dalam hal ini, dokter berkewajiban memberi informasi yang selengkap-lengkapnya kepada pasien mengenai diagnosis, terapi, proses penyakit, pilihan terapi, risiko serta prognosis penyakitnya. Prinsip otonomi dapat kita lihat pada pelaksanaan informed consent (hak persetujuan tindakan setelah diberikan informasi).

Keterampilan berkomunikasi

Salah satu kurikulum pengembangan komunikasi yang dipakai saat ini adalah The Kalamazoo I Consensus Statement, yang meliputi 7 langkah proses komunikasi:

1. Membangun hubungan dokter dan pasien

2. Membuka pembicaraan / diskusi

3. Mengumpulkan informasi

4. Mengerti perspektif pasien

5. Berbagi informasi

6. Mencapai persetujuan terhadap masalah dan rencana

7. Menyampaikan penutup

Sumber:

Cahyono, JB Suharjo, dr. Oktober 2008. Komunikasi: Fondasi Hubungan Dokter dan Pasien. Ethical Digest No 56 Thn VI: hal 68-7

5 Langkah Tuntaskan Diare

Selama ini pengobatan diare selalu identik dengan pemberian antibiotik, bahkan menurut penelitian Prof. dr. S. Yati Sunarto, SpA(K), penggunaan antibiotik tidak rasional pada diare akut di RS non pendidikan mencapai hampir 100%, sedangkan di RS pendidikan sebesar 18%. Bukannya menyembuhkan diare, pemberian antibiotik justru dapat menyebabkan antibiotic associated diarrhea.

Diare secara umum diartikan sebagai buang air besar lebih dari 3 kali dalam 24 jam dengan konsistensi cair. Akan tetapi definisi ini tidak berlaku pada bayi yang baru lahir di bawah satu bulan, karena pada kelompok usia ini, kadar enzim laktosanya masih rendah sehingga akan sering buang air besar bahkan hingga 7-8x sehari. Sebagian besar diare memang disebabkan oleh infeksi bakteri, virus, dan parasit. Tetapi lebih dari 50% diare penyebabnya adalah rotavirus. Jadi, pemberian antibiotik yang selama ini selalu dilakukan dalam mengobati diare lebih banyak tidak memberi manfaat, karena diare yang diakibatkan rotavirus merupakan self limiting disease.

Dalam Continuous Professional Development Konggres Nasional Ilmu Kesehatan Anak ke-14 di Surabaya, Juli 2008, diungkapkan 5 pilar dalam penatalaksanaan diare yang baru:g

1. 1. Oralit baru, dapat mengurangi rasa mual dan muntah. Berikan segera bila anak diare, untuk mencegah dan mengatasi dehidrasi.

2 2. ZINC diberikan selama 10 hari berturut-turut untuk mengurangi lama dan beratnya diare, mencegah berulangnya diare selama 2-3 bulan. Zinc juga dapat mengembalikan napsu makan anak.

3. 3. ASI dan makanan tetap diteruskan sesuai umur anak dengan menu yang sama pada waktu anak sehat untuk mencegah kehilangan berat badan serta pengganti nutrisi yang hilang.

4 4. Antibiotik jangan diberikan kecuali dengan indikasi misalnya diare berdarah, kolera.

5 5. Nasihat pada ibu atau pengasuh: kembali segera jika demam, tinja berdarah, muntah berulang, makan atau minum sedikit, sangat haus, diare makin sering, atau belum membaik dalam 3 hari.

Sumber:

Ethical Digest. Mei 2008. Gastroenteritis Pada Anak. Semijurnal Farmasi dan Kedokteran Ethical Digest: hal 76.

Ethical Digest. Agustus 2008. Kongres Nasional Ilmu Kesehatan Anak ke 14: Penanganan Diare Anak Terkini. Semijurnal Farmasi dan Kedokteran Ethical Digest: hal 76.

Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2004. Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak Edisi I. Jakarta: Badan Penerbit IDAI.