INISIASI MENYUSUI DINI

Inisiasi Menyusui Dini plus ASI Eksklusif Sebagai Langkah Awal Keberhasilan Menyusui…

Dr. Utami Roesli, SpA., IBCLC., FABM., ketua Sentra Laktasi Indonesia (Indonesian Breastfeeding Centre), dalam materi mengenai inisiasi menyusui dini yang dibawakannya pada simposium laktasi yang diadakan di Solo, Mei 2009 yang lalu menegaskan bahwa dengan mulai menyusu sendiri segera setelah lahir, atau kontak kulit setidaknya 1 jam setelah lahir, 22% kematian bayi dapat diselamatkan.

aBerdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Dr.Lennart Righard, Ms Margaret Alade, bayi lahir normal yang diletakkan di perut ibu segera setelah lahir dengan kulit ibu melekat pada kulit bayi selama setidaknya 1jam, maka dalam usia 20 menit bayi akan merangkak kearah payudara, dan usia 50 menit bayi akan mulai menyusu. Bayi lahir normal yang dipisahkan dari ibunya segera setelah lahir, 50% tidak akan bisa menyusu sendiri. Sedangkan bayi lahir dengan tindakan/obat-obatan dan dipisahkan dari ibu, 100% tidak akan bisa menyusu sendiri. Oleh karena itu dalam 10 langkah keberhasilan menyusui, langkah ke 4 nya adalah bantu ibu menyusui sedini mungkin dalam waktu setengah jam.

Berikut adalah TATALAKSANA INISIASI MENYUSU DINI (WABA2007 Leaflet UNICEF IMD 2007):

  1. Dianjurkan SUAMI atau keluarga MENDAMPINGI ibu saat melahirkan (ABM protocol#5 2003, UNICEF dan WHO: BFHI Revised,2006).
  2. Dalam menolong ibu saat melahirkan, disarankan untuk tidak atau mengurangi mempergunakan obat kimiawi (Dimkin & O’Ohara; AmericanJournalof ObstreticandGynocology 2002).
  3. DIKERINGKAN secepatnya terutama kepalanya, KECUALI TANGANNYA , tanpa menghilangkan lemak putih (vernix) (UNICEF dan WHO: BFHI Revised, d 2006 and UNICEF India 2007). Mulut dan hidung dibersihkan,tali pusat diikat.
  4. Bila tak memerlukan resusitasi, bayi DITENGKURAPKAN di dada-perut ibu dengan KULIT bayi MELEKAT pada KULIT ibu. Keduanya diselimuti. Bayi dapat diberi topi.
  5. Anjurkan ibu menyentuh bayi untuk merangsang bayi mendekati puting. Biarkan bayi mencari puting sendiri (WABA 2008).
  6. Ibu didukung dan bilaperlu dibantu mengenali perilaku bayi sebelum menyusu.
  7. Biarkan KULIT Bayi bersentuhan dengan kulit ibu selama PALING TIDAK SATU JAM atau lebih sampai proses menyusu awal selesai (UNICEF dan WHO: BFHI Revised, 2006 and UNICEF India : 2007, ( Klausand Kennel 2001; American College of OBGYN 2007 and ABM protocol #5 2003).
  8. Bila dlm 1 jam menyusu awal belum terjadi, DEKATKAN BAYI KE PUTING tapi jangan memasukkan puting ke mulut bayi. BERI WAKTU 30 menit atau 1 jam lagi (WABA 2007).
  9. Setelah KONTAK KULIT IBU-BAYI SETIDAKNYA 1JAM, atau lebih, bayi baru dipisahkan untuk ditimbang, diukur, diberi vit K dan dicap/tanda.
  10. RAWAT GABUNG BAYI: Ibu– bayi dirawat dalam satu kamar, dalam jangkauan ibu selama 24 jam. (American College of OBGYN 2007 and ABM protocol #5 2003) Berikan ASI saja tanpa minuman atau makanan lain kecuali atas indikasi medis. Tidak diberi dot atau empeng.

10 Langkah Keberhasilan Menyusui

  1. Sarana Pelayanan Kesehatan (SPK) mempunyai kebijakan Peningkatan Pemberian Air Susu Ibu (PP-ASI) tertulis yang secara rutindikomunikasikan kepada semua petugas.
  2. Melakukan pelatihan bagi petugas dalam hal pengetahuan dan ketrampilan untuk menerapkan kebijakan tersebut.
  3. Menjelaskan kepada semua ibu hamil tentang manfaat menyusui dan penatalaksanaannya
    dimulai sejak masa kehamilan, masa bayi lahir sampai umur 2 tahun, termasuk cara mengatasi kesulitan menyusui.
  4. Membantu ibu mulai menyusui bayinya dalam 30 menit setelah melahirkan , yang dilakukan di  ruang bersalin. Apabila ibu mendapat operasi Caesar, bayi disusui setelah 30 menit ibu sadar.
  5. Membantu ibu bagaimana cara menyusui yang benar, dan cara mempertahankan menyusui meski ibu dipisah dari bayi atas indikasi medis.
  6. Tidak memberikan makanan atau minuman apapun selain ASI kepada bayi baru lahir.
  7. Melaksanakan rawat gabung dengan mengupayakan ibu bersama bayi 24 jam sehari.
  8. Membantu ibu menyusui semua bayi semau bayi, tanpa pembatasan terhadap lama dan
    frekuensi menyusui.
  9. Tidak memberikan dot atau kempeng kepada bayi yang diberi ASI.
  10. Mengupayakan terbentuknya Kelompok Pendukung ASI (KP-ASI) dan rujuk ibu kepada kelompok tersebut ketika pulang dari Rumah Sakit/ Rumah Bersalin/ Sarana Pelayanan Kesehatan.

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN

NOMOR : 450/Menkes/SK/IV/2004

TANGGAL : 07 APRIL 2004
Dr. ACHMAD SUJUDI

 

by: SELASI

Retinopathy of Prematurity

oleh: dr. Yuliana

Membahas kasus yang dialami si kembar, Jared dan Jayden, putra dari Ibu Juliana yang mengalami gangguan penglihatan bahkan salah satunya mengalami kebutaan total pada kedua matanya, sungguh mengundang pertanyaan di benak kita. Apa sih sebenarnya retinopathy of prematurity yang disebut-sebut sebagai penyebab hilangnya penglihatan yang normal pada kedua bocah kembar tersebut? Berikut akan dibahas secara singkat mengenai retinopathy of prematurity (ROP) atau yang sering juga dikenal retrolental fibroplasia (RLF).

Retinopathy of prematurity (ROP) adalah kelainan pada mata yang terjadi pada bayi-bayi prematur. Kelainan ini disebabkan5 karena adanya pertumbuhan pembuluh darah retina abnormal yang dapat menyebabkan perlukaan atau lepasnya retina. ROP dapat berlangsung ringan dan membaik dengan sendirinya, tetapi bisa juga menjadi serius dan mengakibatkan kebutaan. Semua bayi dengan berat lahir kurang dari 1500 gram atau usia kehamilan kurang dari 32 minggu berisiko mengalami ROP, tetapi pada bayi-bayi dengan berat lahir semakin kecil dan semakin muda maka risiko terjadinya ROP semakin meningkat. Pemberian oksigen tambahan pada bayi prematur merupakan salah satu faktor risiko yang menyebabkan memberatnya ROP, tetapi bukan merupakan faktor utama terjadinya ROP. Pembatasan pemberian oksigen tambahan pada bayi prematur tidak secara langsung akan menurunkan kejadian ROP, malah akan meningkatkan komplikasi sistemik lain akibat kondisi kekurangan oksigen (hipoksia).

ROP terjadi pada 50% bayi prematur dengan berat lahir kurang dari 1250 gram dan 10%nya berkembang menjadi ROP stadium 3 sedangkan 90%nya berlangsung ringan dan tidak memerlukan pengobatan.

Pada bayi yang lahir dengan usia kehamilan 23-28 minggu, pemeriksaan mata pertama harus dilakukan pada usia 4-5 minggu. Sedangkan pada bayi yang lahir dengan usia kehamilan di atas 29 minggu, pemeriksaan dilakukan sebelum keluar dari rumah sakit. Bayi dengan ROP berisiko besar terjadi strabismus (juling), g laukoma, katarak, dan kelainan refraksi (rabun jauh), sampai buta. Oleh karena itu harus dilakukan pemeriksaan berkala setiap tahun untuk mencegah dan mengatasi kondisi-kondisi tersebut.

7Pemeriksaan mata bayi dilakukan dengan menggunakan oftalmoskop indirek. Klasifikasi ROP ditetapkan berdasar kan International Classification of Retinopathy of Prematurity (ICROP). Sistem ini menggunakan beberapa parameter untuk mendeskripsikan ROP, yaitu lokasi dari penyakit (zona 1,2 dan 3), perluasan melingkar dari penyakit (jam 1-12), keparahan penyakit (stadium 1-5), serta ada tidaknya “plus disease”.

ropZona Retina

Zona 1 daerah posterior retina

Zona 2 annulus dengan batas dalam zona 1 dan batas luar jarak dari nervus optikus ke nasal ora serrata

Zona 3 residual temporal crescent of the retina.

Stadium

Stadium 1 garis batas kabur

Stadium 2 elevated ridge

Stadium 3 extraretinal fibrovascular tissue

Stadium 4 sub-total retinal detachment

Stadium 5 total retinal detachment

Plus disease” dapat muncul pada stadium manapun. Menunjukkan tingkat yang signifikan dari dilatasi vaskular dan tortuosity yang ada di pembuluh darah retina belakang. Hal ini menggambarkan adanya peningkatan aliran darah yang melewati retina.

Terapi ROP yang dianjurkan adalah laser. Selain laser, ada juga cryotherapy, akan tetapi cryotherapy tidak lagi rutin digunakan pada ablasio retina bayi prematur, karena berefek samping inflamasi dan lid swelling. Scleral buckling dan/atau bedah vitrectomy dapat dipertimbangkan pada ROP berat (stadium 4-5).

Sumber:

Anonim1. 2007. Retinopathy of Prematurity. (Online). (http://biosingularity.files.wordpress.com/ 2007/07/4330_web.jpg, diakses tanggal 22 Juni 2009).

Anonim2. 2009. Retinopathy of Prematurity. (Online). (http://www.gruiasfightforsight.com/ img/photo.jpg, diakses tanggal 22 Juni 2009).

Bashour, Mounir. 2008. Retinopathy of Prematurity. (Online). (http://emedicine.medscape.com/ article/1225022-overview, diakses tanggal 22 Juni 2009).

National Institute of Eye. 2009. Retinopathy of Prematurity. (Online). (http://www.nei.nih.gov/ health/rop, diakses tanggal 22 Juni 2009).

Wikipedia. 2009. Retinopathy of Prematurity. (Online). (http://en.wikipedia.org/wiki/ Retinopathy_of_prematurity, diakses tanggal 22 Juni 2009).

Follow Up Bayi Prematur

oleh: dr. Yuliana

8Kelahiran prematur tidak hanya berdampak buruk pada saat lahir, tapi juga berefek jangka panjang pada bayi. Bayi prematur menurut WHO diartikan sebagai bayi yang lahir dengan usia kehamilan kurang dari 37 minggu, dihitung dari hari pertama haid terakhir (HPHT) ibu. Pada saat lahir atau beberapa saat setelah lahir, bayi-bayi prematur ini berisiko lebih besar mengalami infeksi, hipotermia, hipoglikemia, gangguan napas (respiratory distress syndrome), kuning (neonatal jaundice) sampai kernicterus atau penurunan kesadaran akibat tingginya kadar bilirubin indirek dalam darah bayi. Bayi-bayi prematur ini juga berisiko mengalami perdarahan otak intraventrikular yang bisa menimbulkan dampak jangka panjang yang serius.

Dampak jangka panjang lainnya antara lain risiko tinggi terjadinya gangguan pertumbuhan, perkembangan, pendengaran dan pengllihatan yang terjadi pada 10-15% bayi-bayi prematur. Oleh karena itu diperlukan follow up yang intensif dan rutin.

Pertumbuhan

Selama dua tahun pertama kehidupan, pertumbuhan dicatat menggunakan umur koreksi untuk prematuritas.

Umur koreksi = umur kronologis – prematuritas

Grafik pertumbuhan untuk bayi prematur rata-rata telah didisain khusus. Setelah bayi mencapai usia 2 tahun, grafik pertumbuhan standar dapat digunakan. Tumbuh kejar (catch-up growth) pada bayi prematur biasanya terjadi selama 2-3 tahun pertama dan maksimum pada saat usia 36-40 minggu setelah pembuahan. Sedikit terjadi setelah usia 3 tahun. Biasanya pertama kali terlihat pada lingkar kepala bayi, diikuti dengan berat dan panjang badan. Bayi prematur dengan retardasi pertumbuhan dalam rahim (IUGR) dan tanpa catch-up growth mempunyai risiko mengalami keterlambatan perkembangan serta kelainan medis yang lebih besar dibandingkan dengan bayi prematur dengan laju pertumbuhan normal. Bahkan saat remaja, anak-anak yang lahir prematur lebih kecil dibandingkan anak yang tidak lahir prematur. Menarche (menstruasi pertama kali) juga terjadi lebih lambat pada anak yang lahir prematur. Suatu penelitian menunjukkan bahwa perempuan yang lahir prematur cenderung melahirkan bayi prematur pula.

Jadwal follow up dilakukan tergantung kondisi medis. Pada usia koreksi kurang dari 40 minggu, follow up dilakukan setiap 2 minggu, setelah bayi mencapai usia aterm (40 minggu), follow up dilakukan tiap bulan. Yang dinilai adalah berat badan, panjang badan, dan lingkar kepala.

Perkembangan

Perkembangan bayi selama 2 tahun pertama ini harus di-plot dari perkiraan tanggal lahir bayi yang seharusnya bukan dari tanggal lahir bayi. Kuesioner praskrining perkembangan Denver, DDST, dan The Gesell Screening Inventory merupakan uji yang sudah diakui. Skrining perkembangan tidak menggantikan pemeriksaan saraf. Neonatal Neurodevelopmental Examination perlu dilakukan untuk menilai refleks dan kekuatan otot, saraf otak dan fungsi motorik, respons sensorik dan perilaku.

Penglihatan2

Strabismus (juling) lebih sering didapatkan pada bayi prematur dibanding dengan bayi aterm. Karena juling dapat menjadi tanda kelainan pada mata, diperlukan konsultasi dengan dokter bila dijumpai juling pada bayi. Pada banyak bayi berat lahir sangat rendah, juling pada usia enam minggu akan menghilang saat mencapai usia 9 bulan sedangkan juling yang timbul saat usia 9 bulan cenderung menetap. The American Academy of Pediatrics, the American Association for Pediatric Ophthalmology and Strabismus, dan the American Academy of Ophthalmology menganjurkan dilakukannya pemeriksaan skrining awal pada usia 4-6 minggu, dengan follow-up tergantung hasil pemeriksaan awal.

Pendengaran

WHO mendefinisikan tuli sebagai hilangnya pendengaran rata-rata lebih dari 25 dB pada frekuensi 500, 1.000 dan 2.000 Hz. Berdasarkan definisi tersebut, sekitar 5% bayi prematur yang lahir sebelum usia kehamilan 32 minggu mengalami ketulian pada usia 5 tahun. Para orang tua harus memperhatikan adanya tanda-tanda gangguan pendengaran pada bayi. Respons bayi terhadap suara keras dapat diperiksa oleh dokter dan kemampuan mengerti dan mengekspresikan bahasa dapat dinilai dengan alat skrining perkembangan. Konsultasi dengan ahli THT dapat dilakukan jika orang tua melihat tanda-tanda hilangnya pendengaran atau jika ditemukan kelainan saat skrining.

Beberapa kondisi seperti hiponatremia (kadar natrium dalam darah yang rendah), alkalosis metabolik dan penggunaan ventilator mekanik dalam jangka waktu lama yang merupakan faktor resiko terjadinya ketulian. Faktor resiko lainnya antara lain penggunaan obat golongan aminoglikosida atau furosemide.

SUMBER:

Trachtenbarg, David E, Golemon, Thomas B. 1998. Care of the Premature Infant: Part I.

Monitoring Growth and Development. (Online). (http://www.aafp.org/afp/980501ap/trachten.html, diakses tanggal 22 Juni 2009).

Patient UK. 2008. Premature Babies and Their Problems. (Online). (http://www.patient.co.uk/ showdoc/40024676/, diakses tanggal 22 Juni 2009).

Merokok Meningkatkan Risiko Terjadinya Kelahiran BBLR

Oleh: dr. Yuliana

gambar-rokok

Kebiasaan merokok telah menjadi budaya di berbagai bangsa di dunia. Saat ini sekitar 1.1 miliar orang merokok di seluruh dunia. Pada tahun 2025, diperkirakan jumlah ini akan meningkat menjadi lebih dari 1.6 miliar. Indonesia sendiri menduduki peringkat keempat jumlah perokok terbanyak di dunia, yaitu sekitar 141 juta orang dengan sekitar 57 ribu perokok meninggal setiap tahun dan sekitar 500 ribu orang menderita berbagai penyakit akibat rokok. Penelitian di Jakarta menunjukkan bahwa 64,8 persen pria dan 9,8 persen wanita dengan usia di atas 13 tahun adalah perokok, sedangkan data World Health Organization (WHO) tahun 1995 menunjukkan bahwa 47 persen pria dan 12 persen wanita adalah perokok.

Di Indonesia, perokok relatif bebas mengisap rokok di mana saja. Kawasan bebas rokok di negeri ini masih amat minim, itu pun sangat mungkin dilanggar karena sanksinya bisa dikatakan tidak ada. Padahal, kalau seseorang merokok, itu berarti dia hanya mengisap asap rokoknya sekitar 15 persen saja, sementara yang 85 persen lainnya dilepaskannya untuk diisap para perokok pasif.

Asap rokok mengandung sekitar 4.000 zat kimia seperti karbon monoksida (CO), nitrogen oksida (NO), asam sianida (HCN), amonia (NH4OH), acrolein, acetilen, benzaldehyde, urethane, benzene, methanol, coumarin, etilkatehol-4, dan ortokresol. Selain komponen gas ada komponen padat atau partikel yang terdiri dari nikotin dan tar. Bahan-bahan di ataslah yang menyebabkan terjadinya berbagai macam kelainan dan penyakit. Beberapa penyakit dengan etiologi perokok, baik perokok aktif maupun perokok pasif, adalah penyakit jantung koroner, penyakit paru-paru kronis, tumor paru, impotensi, dan gangguan sistem reproduksi. Selain itu, salah satu bahaya merokok adalah gangguan kehamilan dan janin.

Penelitian yang dilakukan oleh BMA Tobacco Control Resource Centre menunjukkan bahwa ibu yang merokok selama kehamilan memiliki risiko melahirkan bayi berat lahir rendah (BBLR) sebesar 1,5-9,9 kali dibandingkan dengan berat badan lahir bayi dari ibu yang tidak merokok. Kondisi BBLR sangatlah merugikan. Bayi dengan kondisi BBLR sering disertai dengan komplikasi, antara lain: sindrom gangguan pernapasan idiopatik, pneumonia aspirasi, perdarahan intraventrikuler, hiperbilirubinemia, sindrom aspirasi mekonium, hipoglikemia simtomatik, dan asfiksia neonatorum. Bahkan, bayi dengan BBLR merupakan salah satu penyebab utama kematian perinatal. Angka kematian perinatal pada bayi BBLR lebih daripada 2 kali angka kematian bayi normal. Berikut penjelasan singkat mengenai mekanisme yang diduga mendasari terjadinya kelahiran bayi berat lahir rendah pada ibu yang terpapar asap rokok baik sebelum maupun selama kehamilannya.

Merokok selama hamil telah dilaporkan mempunyai efek yang merugikan terhadap ibu ataupun janin yang dikandung. Sebuah penelitian eksperimental menggunakan hewan coba mencit menyimpulkan bahwa paparan asap rokok yang diberikan selama masa kehamilan hari ke-0 (hari konsepsi), 1 dan 2 menyebabkan retardasi pertumbuhan embrio, sedangkan paparan asap rokok selama masa kehamilan hari ke-0 hingga hari ke-17 menyebabkan penurunan berat badan fetus. Dalam penelitian ini, mencit dipapar asap rokok selama 10 menit, 3 kali sehari.

Di bawah ini adalah diagram alur mekanisme efek paparan asap rokok terhadap risiko terjadinya kelahiran BBLR.

rokok2

Secara singkat dapat dijelaskan bahwa radikal bebas yang terkandung dalam asap rokok dapat menyebabkan kerusakan endotel, peningkatan vasokonstriktor, dan penurunan vasodilator. Nikotin sendiri yang juga terkandung dalam asap rokok dapat menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah. Semua hal tersebut dapat menyebabkan terjadinya hipertensi. Hipertensi dapat menyebabkan penurunan suplai makanan dan oksigen fetus. Radikal bebas juga dapat menyebabkan kerusakan jaringan paru sehingga dapat terjadi PPOK. PPOK akan menyebabkan penurunan oksigenasi fetus. Selain itu, radikal bebas juga dapat mengganggu metabolisme asam folat. Dengan adanya gangguan metabolisme asam folat berarti nutrisi pertumbuhan fetus akan terganggu dan juga akan mempengaruhi ekspresi gen fetus. Akibatnya secara tidak langsung, hipertensi, PPOK, dan defisiensi asam folat akan menimbulkan gangguan pertumbuhan fetus yang pada akhirnya akan dapat menyebabkan BBLR.

 

Kangaroo Mother Care (KMC)

Oleh: dr. Yuliana

foto_red1Kangaroo Mother Care (KMC) atau yang juga dikenal sebagai metode kangguru atau perawatan bayi lekat sudah tak asing di telinga.

Metode yang pertama kali dilakukan oleh Doctors Rey dan Martinez di Bogota, Colombia pada tahun 1979 ini awalnya dicetuskan karena begitu banyaknya bayi berat lahir rendah, keterbatasan tenaga dan fasilitas kesehatan, serta tingginya angka mortalitas di rumah sakit karena infeksi. Metode ini terus berkembang dan mengalami modifikasi yang pada prinsipnya terdiri dari 4 komponen, yaitu kangaroo position, kangaroo nutrition, kangaroo support, dan kangaroo discharge.

Kangaroo position yaitu bayi dalam keadaan telanjang, hanya mengenakan popok, topi hangat dan kaus kaki diletakkan diantara payudara ibu. Dalam posisi demikian tubuh ibu dan bayi diikat dengan kain selimut atau kain berbahan elastis untuk menahan badan bayi agar tidak jatuh. Prinsipnya adalah semakin luas kulit bayi yang bersentuhan dengan kulit ibu semakin baik (skin to skin contact).

Selama bayi berada dalam dekapan ibu, pemantauan suhu ketiak bayi perlu dilakukan setiap 6 jam selama 3 hari pertama metode kangguru dimulai. Selanjutnya pengukuran dilakukan 2 kali sehari. Selain suhu, ibu perlu memantau pernapasan bayi. Pernapasan normal bayi prematur berkisar 40-60 kali per menit dan kadang dapat disertai periode apnu (tidak bernapas).

Kangaroo Nutrition, dengan metode kangguru banyak ibu berhasil menyusui bayinya. Bayi-bayi prematur dengan usia gestasi lebih muda dapat memulai proses breast feeding. Selain itu, metode ini dapat meningkatkan volume ASI.

Kangaroo Support, metode kangguru ini memerlukan dukungan semua pihak, baik ibu, seluruh keluarga, tenaga medis, maupun komunitas.

Kangaroo Discharge, bayi-bayi berat lahir rendah ini dapat lebih cepat pulang ke rumah dengan metode kangguru ini, karena metode kangguru ini tidak hanya bisa dilaksanakan di rumah sakit, tetapi juga dapat diterapkan di rumah.

Metode kangguru ini dinilai memberi banyak keuntungan, baik bagi ibu, ayah, bayinya sendiri, maupun bagi health care provider. Ibu merasa lebih percaya diri, tingkat stress menurun, merasa bersemangat berpartisi dalam merawat bayinya, memberi ASI, serta mengurangi rasa penolakan dan kekecewaan ibu. Demikian juga bagi ayah, ayah dapat turut berperan dalam perawatan bayinya serta meningkatkan ikatan batin antara ayah dan bayinya. Sedangkan bagi bayinya sendiri, metode kangguru ini dapat membuat bayi lebih hangat dan stabil, pertumbuhan lebih cepat, angka terjadinya infeksi dan apneu menurun. Bagi health care provider, metode kangguru ini akan menurunkan jumlah kebutuhan akan tenaga medis dan peralatan, bayi dapat lebih cepat keluar dari rumah sakit, serta lebih murah.

Osteopenia of Prematurity

Ditulis oleh:

dr. Yuliana

Bayi-bayi prematur memiliki risiko tinggi untuk terjadinya penurunan bone mineral content (BMC) yang berakibat terjadinya bone disease, yang secara bervariasi disebut sebagai metabolic bone disease of prematurity, neonatal rickets atau osteopenia of prematurity. Osteopenia of prematurity (OOP) sendiri seringkali sulit dan terlambat untuk dideteksi karena pada awal-awal OOP ini tidak menunjukkan gejala klinis. Padahal menurut Jurnal of Perinatology tahun 1984, OOP merupakan preventable disease sebelum terjadinya manifestasi atau komplikasi yang lebih lanjut, misalnya adanya suatu fraktur yang tidak diketahui penyebabnya.

Osteopenia diartikan sebagai penurunan densitas tulang yang akhirnya mengakibatkan penurunan kekuatan tulang. Osteopenia of prematurity (OOP) umumnya didapatkan pada bayi-bayi dengan berat lahir rendah. Kondisi ini menempatkan bayi-bayi prematur pada risiko tinggi untuk terjadinya fraktur. Menurut Bridget K. Cross dalam jurnalnya yang berjudul Osteopenia Of Prematurity: Prevention and Treatment, 30% bayi-bayi dengan berat lahir kurang dari 1250 gram menderita OOP. Bahkan sumber lain menyebutkan bahwa bayi dengan berat lahir kurang dari 1500 gram dan usia kehamilan kurang dari 32 minggu, insiden osteopenia terjadi hampir tanpa kecuali. Hal ini tidak mengejutkan karena 80% mineralisasi tulang janin terjadi pada trimester ketiga dari kehamilan.


Pada trimester ketiga dari kehamilan, sejumlah besar kalsium dan fosfor ditransfer secara aktif dari ibu ke janin, dimana 99% kalsium dan 85% fosfor berada dalam tulang sehingga terjadi pertumbuhan tulang bayi. Selain itu, aktivitas janin juga meningkat selama waktu ini, dimana aktivitas ini penting untuk perkembangan tulang. Hal sebaliknya didapatkan pada bayi-bayi prematur, bayi prematur tidak mendapatkan kalsium dan fosfor dalam jumlah yang diperlukan untuk membentuk tulang yang kuat. Adanya pembatasan aktivitas juga didapatkan pada bayi-bayi prematur yang berakibat meningkatnya bone resorption, penurunan bone mass, dan peningkatan hilangnya kalsium urin. Faktor-faktor lain yang juga meningkatkan risiko terjadinya OOP adalah kadar vitamin D yang rendah atau ketidakmampuan untuk melakukan metabolisme vitamin D yang baik, yang menyebabkan terhambatnya absorbsi kalsium dari usus dan ginjal, penggunaan diuretik dan steroid jangka panjang, nutrisi parenteral total yang lama, unsupplemented human milk, penggunaan formula kedelai dan elemental, bronchopulmonary dysplasia, serta penggunaan metilxanthin dan aminoglikosida yang meningkatkan ekskresi kalsium urin.
Gambaran klinis dari osteopenia biasanya asimptomatis dan baru muncul pada usia bayi enam sampai dua belas minggu, berupa craniotabes, frontal bossing, penebalan dari pergelangan tangan dan kaki, rachitic rosary (pembesaran epiphysial plate pada costochondral junction), pertumbuhan linear terhambat, hipoplasi enamel, serta adanya gangguan respirasi karena proses mineralisasi yang jelek pada costae dan kelemahan otot akibat hypophospatemic myopathy.

Berikut adalah perubahan khas yang terjadi pada distal radius dan ulna, dimana terjadi pembesaran epiphysial plate

Berikut gambar rachitic rosary, yang merupakan pembesaran klinis epiphysial plates pada costochondral junction

Continue reading