Komunikasi Dokter – Pasien

patient-doctors_komunikasi1

Seorang dokter dituntut karena dugaan malpraktik sudah menjadi berita umum saat ini. Seakan menunggu waktu kapan seorang dokter akan ‘ketiban apes’ atau dengan kata lain kapan seorang dokter akan mengalami giliran dituntut akibat tindakan yang dikabarkan malpraktik, walaupun sebenarnya belum tentu benar.

Mengapa hal ini bisa terjadi??

Dalam sebuah tulisan berjudul Komunikasi: Fondasi Hubungan Dokter dan Pasien (Ethical Digest No 56 Thn VI Oktober 2008, hal 68-74), Dr. JB Suharjo B Cahyono, penulis buku Membangun Budaya Keselamatan Pasien Dalam Praktik Kedokteran menjelaskan mengenai beberapa hal yang berkaitan dengan masalah ini.

Komunikasi kurang mendapat perhatian

Menurut laporan Joint Commission on Accreditation of Healthcare Organizations (JCAHO), dari hasil evaluasi 2840 kasus sentinent event (kejadian yang tak diharapkan fatal) dapat disimpulkan bahwa 65% akar penyebab masalah adalah faktor komunikasi. Komunikasi ini menyangkut banyak hal, komunikasi antar petugas kesehatan sebagai satu tim, komunikasi dokter dengan petugas kesehatan lainnya, dan komunikasi dokter dengan pasien.

Dalam praktik kedokteran, komunikasi sering kurang mendapat perhatian dari para tenaga kesehatan yang lebih mengutamakan ketrampilan klinis, ketimbang meluangkan waktu untuk melakukan komunikasi yang efektif. 54% pasien mengeluh, dan 45% pasien minta perhatian, tidak mendapat tanggapan dokter. Bahkan studi lain mengatakan dalam 18 detik pasien mengungkapkan problemnya, dokter menyela ungkapan pasien.

Dalam pembahasan kali ini akan lebih diutamakan mengenai komunikasi dokter dan pasien. Dalam hubungan dokter – pasien, hal penting yang perlu mendapat perhatian, yaitu bagaimana dokter menempatkan otonomi pasien sebagai individu khususnya dalam pengambilan keputusan medis. Konsekuensinya adalah bagaimana dokter membangun keharmonisan hubungan tersebut melalui komunikasi. Hubungan dokter dan pasien pasti dilandasi dengan komunikasi, kecuali pada pasien tidak sadar, meskipun demikian komunikasi tetap berjalan, paling tidak dengan keluarga pasien.

Ketidakseimbangan hubungan dokter – pasien

Ketidakseimbangan ini menyangkut pada hubungan dokter dan pasien yang bersifat paternalistik asimetris dan ketidakpastian dalam praktik kedokteran. Paternalistik berarti otonomi pasien berada di bawah bayang-bayang dokter, dokter bebas menentukan tindakan terhadap pasien. Hal ini akan memberi lebih banyak peluang bagi dokter untuk melakukan kesalahan medis. Karena pasien tidak bersikap kritis dan tidak menuntut lebih banyak, lebih bersikap menerima, maka dokter cenderung memberikan pelayanan “apa adanya”. Asimetris berarti tidak seimbang, ada kesenjangan pengetahuan dan ketrampilan, ada perbedaan sudut pandang antara dokter dan pasien. Selama ini, pasien beranggapan bahwa kedokteran modern saat ini mampu menjawab segala persoalan media, dengan teknologi yang super canggih, mampu “melihat” apa yang ada di dalam tubuh. Pasien lebih melihat dari aspek hasil daripada proses, yang penting sembuh dan bukan sebaliknya. Sedangkan dari sudut pandang dokter, dokter lebih berorientasi pada proses. Berusaha melakukan tindakan medis terbaik, menurut ukuran standar medis yang telah diuji ilmiah (evidence based), hasil pengobatan tidak dapat dipastikan. Ilmu kedokteran dibangun berdasarkan gabungan antara science (ilmu pengetahuan) dan art (seni). Bukan 100% ilmu pasti. Dalam praktik kedokteran, ada area abu-abu (grey zone), daerah yang masih tidak diketahui dan mengandung ketidakpastian.

Pengaruh hubungan dokter dan pasien terhadap proses penyakit

Komunikasi yang efektif memungkinkan seorang dokter untuk mendapatkan data klinis yang lebih lengkap, sehingga memudahkan dalam penentuan diagnosis, dan akan membuahkan suatu kepercayaan dan keyakinan diri pasien terhadap dokter. Kepercayaan dan keyakinan pasien terhadap dokter akan membantu proses penyembuhan.

Komunikasi yang efektif membantu penyembuhan

Seperti yang disebutkan oleh Leventhal, interaksi hubungan dokter dan pasien yang dijalin melalui komunikasi yang efektif dapat mempengaruhi proses penyembuhan. Apa yang dibutuhkan oleh pasien adalah proses perawatan yang mencakup perawatan fisik, perilaku, kognitif, dan emosi. Dari berbagai penelitian disimpulkan bahwa komunikasi yang baik akan meningkatkan status kesehatan dan meningkatkan efisiensi perawatan. Komunikasi yang tidak berjalan baik seringkali menjadi faktor pendorong pasien mengajukan gugatan hukum bila di kemudian hari pasien mengalami KTD (kejadian tidak diharapkan).

Paternalisme menjadi Partnership

Pola paternalistik digantikan dengan pola hubungan yang bersifat partnership atau patient-centered care, yaitu pola perawatan kesehatan yang berorientasi pada pemenuhan keinginan dan kebutuhan pasien. Ungkapan ”dokterlah yang paling tahu, maka lakukan saja apa kata dokter” sudah waktunya untuk dihilangkan dari pikiran kita. Sekarang sudah jamannya dimana konsep otonomi dalam hubungan dokter – pasien dikembangkan. Pasien memiliki otonomi penuh atas dirinya. Pasien berhak menentukan keputusan medis yang akan dia terima. Ia bebas menerima atau menolak tindakan medis yang ditawarkan oleh dokternya. Dalam hal ini, dokter berkewajiban memberi informasi yang selengkap-lengkapnya kepada pasien mengenai diagnosis, terapi, proses penyakit, pilihan terapi, risiko serta prognosis penyakitnya. Prinsip otonomi dapat kita lihat pada pelaksanaan informed consent (hak persetujuan tindakan setelah diberikan informasi).

Keterampilan berkomunikasi

Salah satu kurikulum pengembangan komunikasi yang dipakai saat ini adalah The Kalamazoo I Consensus Statement, yang meliputi 7 langkah proses komunikasi:

1. Membangun hubungan dokter dan pasien

2. Membuka pembicaraan / diskusi

3. Mengumpulkan informasi

4. Mengerti perspektif pasien

5. Berbagi informasi

6. Mencapai persetujuan terhadap masalah dan rencana

7. Menyampaikan penutup

Sumber:

Cahyono, JB Suharjo, dr. Oktober 2008. Komunikasi: Fondasi Hubungan Dokter dan Pasien. Ethical Digest No 56 Thn VI: hal 68-7

Advertisements

MINI Tablet; Salah Satu Jawaban dari Polemik Puyer??

Oleh: dr. Yuliana

Polemik puyer yang sempat ramai dibahas bulan lalu sudah mulai mereda dengan sendirinya. Apakah ini berarti masalah sudah beres? Atau hanya menambah jumlah masalah terpendam yang belum bisa diselesaikan dunia kesehatan Indonesia?

foto11Melalui jurnal PEDIATRICS yang berjudul “Minitablets: New Modality to Deliver Medicines to Preschool-Aged Children” yang dipublikasikan oleh American Academy of Pediatrics pada bulan Januari 2009 ini mungkin dapat memberikan secercah harapan bagi Indonesia sebagai pertimbangan dalam upaya peningkatan mutu kesehatan anak Indonesia..

Dalam jurnal ini dilakukan penelitian untuk menilai tingkat penerimaan (acceptability) dan kecocokan (suitibility) penggunaan minitablet pada anak-anak pra sekolah. Subjeknya adalah anak-anak usia 2-6 tahun yang dinilai tidak memiliki gangguan menelan, baik kronis maupun akut. Sedangkan minitablet yang digunakan adalah placebo, uncoated, bulat, dengan diameter 3 mm. Minitablet ini diberikan pada anak dengan bantuan orang tua/pengasuh anak. Anak diminta menjulurkan lidahnya dan orang tua/pengasuh membantu dengan meletakan minitablet ini pada lidah bagian belakang si anak, dan kemudian si anak diminta menarik kembali lidahnya kemudian meminum air sampai terasa bahwa minitablet tadi sudah masuk ke dalam perut. Minitablet tidak boleh dikunyah. Kegiatan ini dinilai dan dicatat oleh satu orang pengawas.

Dan hasilnya menunjukkan bahwa dari 100 anak, 56 diantaranya mampu menelan minitablet dengan baik. Dengan semakin bertambahnya usia, semakin bertambah pula kemampuan si anak untuk menelan minitablet. Anak usia 4 tahun menunjukkan kemampuan menelan minitablet 3,9 kali lebih baik dan anak usia 5 tahun menunjukkan kemampuan menelan minitablet 5 kali lebih baik bila dibandingkan dengan anak usia 2 tahun. 76% anak usia 4 tahun dan 87% anak usia 5 tahun menunjukkan kemampuan dan kemauan menelan minitablet. Tidak didapatkan kejadian tersedak maupun aspirasi selama dilakukan penelitian ini.

foto21

Gambar. Hasil Penelitian “Minitablets: New Modality to Deliver Medicines to Preschool-Aged Children”

Dari penelitian yang sederhana ini dapat menunjukkan bahwa minitablet merupakan pilihan sediaan yang cukup potensial untuk anak-anak usia pra sekolah. Mayoritas anak dalam penelitian ini mengatakan mudah untuk menelan minitablet. Kesimpulan dari penelitian ini menyatakan bahwa sediaan minitablet aman untuk diberikan pada anak usia 2-6 tahun tanpa gangguan menelan. Pada anak usia ≥4 tahun minitablet dapat diterima secara baik. Sedangkan pada anak usia 2-4 tahun diperlukan lebih banyak latihan dan pengalaman untuk bisa menelan minitablet tanpa mengunyahnya terlebih dulu

Polemik PUYER

oleh: dr. Yuliana

Polemic puyer sedang jadi bahan omongan.. Berbagai media massa bahkan forum dan milis di internet mulai ramai-ramai membahas mengenai kontroversi ini. Berhari-hari ibu menteri kesehatan kita nongol di layar kaca memberikan tanggapannya. Pengurus pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pun sudah mengeluarkan pendapat yang telah disetujui oleh Ketua Umum IDAI, Dr. Badriul Hegar, SpA (K) mengenai polemik ini.

Sebenarnya, apa yang dimaksud dengan puyer?0806037

Puyer atau pulvis adalah salah satu bentuk sediaan obat yang biasanya didapat dengan menghaluskan atau menghancurkan sediaan obat tablet atau kaplet yang biasanya terdiri atas sedikitnya dua macam obat.

Alasan dibuatnya puyer adalah:

  1. pasien tidak bisa menelan tablet/pil/kapsul. biasanya pada pasien anak/balita
  2. tidak ada dosis yang sesuai pada sediaan yang ada. misalnya butuh paracetamol 100mg, sementara sediaan yang ada di pasaran 250mg dan 500mg.
  3. polifarmasi : jika pasien anak-anak mendapat obat lebih dari 1 macam
  4. tidak ada sediaan bentuk lain yang sesuai. misalnya bentuk syrup nya tida ada
  5. ekonomis. puyer relatif lebih murah daripada syrup.

Dalam pengobatan modern barat, pada awalnya puyer merupakan salah satu bentuk sediaan yang luas digunakan di seluruh dunia, terutama untuk penggunaan obat racikan/campuran. Namun, dengan kemajuan teknologi, lambat laun sediaan puyer semakin jarang digunakan di seluruh dunia. Selain karena kemajuan teknologi yang menghasilkan berbagai bentuk sediaan obat baru yang lebih aman, mudah digunakan, dan nyaman bagi pasien, sediaan obat puyer dianggap bersifat kurang stabil. Dengan demikian, lebih mudah rusak, takaran kurang akurat, dan penggunaannya juga menimbulkan rasa kurang nyaman (pahit). FDA (Food and Drug Administration) sendiri sudah tidak merekomendasikan penggunaan puyer lengkapnya baca di (http://www.fda.gov/consumer/updates/compounding053107.html)

Continue reading