Hati-Hati dengan “Pulled Elbow”

Oleh: dr. Yuliana

Sedikit berbagi pengalaman dengan pembaca blog saya. Kemarin saya mengantar keponakan saya yang baru berusia 5 tahun ke dokter karena tangan kanannya tidak bisa digerakkan dan bengkak di sikunya. Awal kejadiannya adalah saat ponakan saya ditarik tangannya oleh ayahnya (lihat ilustrasi). Setelah dibawa ke dokter, ponakan saya didiagnosa menderita “pulled elbow”. Karena penasaran dengan penyakit tersebut, saya pun mencari info tentang pulled elbow di google dan di buku Orthopedi/bedah tulang milik teman saya. Berikut penjelasannya secara singkat.

pulled_elbow_khi_rchnurse

“Pulled elbow” seringkali disebut dengan “nursemaid elbow” adalah suatu trauma pada sendi siku anak-anak, dimana terjadi robekan pada ligamen (struktur yang menghubungkan tulang dengan tulang) pada tulang radius/tulang hasta (lihat gambar) sehingga tulang radius akan lepas dari sendi siku (mengalami dislokasi). Akibatnya anak akan kesakitan saat berusaha menggerakkan tangannya, bahkan enggan untuk menggerakkannya sama sekali. “Pulled elbow” hanya terjadi pada anak kecil, karena lemahnya ligamen pada tulang radius tersebut.

Pertolongan pertama yang dapat anda lakukan adalah jangan memaksa anak untuk meluruskan siku. Segera bawa anak anda ke dokter atau ke unit gawat darurat untuk mendapatkan pertolongan. Semoga tulisan singkat ini bisa membuat pembaca lebih berhati-hati dengan anak anda.

Acute Hematogenous Osteomyelitis

Oleh: dr. Yuliana

boneinf_slide50

Acute Hematogenous Osteomyelitis [AHO] adalah infeksi pada tulang yang terutama mengenai anak-anak. Infeksi ini sangat serius dan penyebaran infeksinya melalui darah (hematogen) dan dapat menyebabkan komplikasi berupa kecacatan yang permanen bahkan kematian. Oleh karena itu, diagnosa AHO harus ditegakkan sedini mungkin agar dapat segera dilakukan pengobatan. Sayangnya, tidak semudah itu menegakkan diagnosa AHO di awal perjalanan penyakit.. Mengapa? Silakan baca artikel singkat berikut..

Pada orang dewasa, osteomyelitis/infeksi tulang terutama berkaitan dengan trauma/cedera, misalnya luka terbuka pada tulang setelah kecelakaan lalu lintas. Sedangkan pada anak-anak, riwayat trauma hanya didapatkan pada 30% pasien, dan tidak harus berupa trauma berat. Sebelum terjadinya AHO pada anak, bisa hanya didapatkan riwayat infeksi saluran pernafasan, infeksi kulit, luka babras, ataupun bisul. Bahkan kebiasaan menggosok gigi yang terlalu keras dan menyebabkan trauma atau luka pada gusi juga bisa menyebabkan masuknya bakteri ke dalam darah (bakterimia) dan akhirnya menjadi osteomyelitis. Inilah salah satu alasan mengapa AHO harus diwaspadai, karena penyebabnya sepele sehingga seringkali tidak terdiagnosa sejak dini.

Berikut angka kejadian AHO pada anak-anak:

  1. Anak laki-laki 3 kali lipat lebih sering terkena daripada wanita
  2. Bagian tulang yang paling sering terinfeksi adalah tulang panjang, dengan urutan: femur (tulang paha), tibia (tulang kering), humerus (tulang lengan atas), radius (hasta), ulna (pengumpil), dan fibula.

Setelah adanya riwayat infeksi ataupun luka seperti diatas, dalam hitungan beberapa jam hingga hari, anak akan mengeluhkan rasa sakit di tulang paha, tulang kering, atau lainnya seperti yang disebutkan diatas. Rasa sakit yang muncul lama-lama akan semakin berat terutama bila digerakkan. Dari luar, tampak kulit menjadi kemerahan, bengkak yang menunjukkan tanda-tanda radang. Anak juga akan mengalami demam, gelisah, nafsu makan berkurang. Ini adalah saat paling tepat untuk membawa anak anda ke dokter, untuk segera dilakukan pemeriksaan agar dapat segera didiagnosa apakah anak anda menderita AHO.

Prinsip pengobatan AHO adalah sebagai berikut:

  1. Anak diistirahatkan di tempat tidur, diberikan obat anti nyeri untuk mengatasi rasa sakit
  2. Menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh dengan memberikan cairan infus
  3. Bagian yang terinfeksi harus diistirahatkan untuk mengurangi nyeri. Bila perlu dipasang bidai
  4. Untuk anak yang tidak bisa mengkonsumsi obat peroral (obat minum), maka diberikan melalui infus. Antibiotika harus segera diberikan sambil
  5. Apabila dalam waktu 24 jam keluhan anak menetap atau memberat maka harus dilakukan tindakan operasi untuk dekompresi (mengurangi tekanan) pada tempat infeksi
  6. Pemberian antibiotik diteruskan minimal 3-4 minggu

Diagnosa dan terapi sedini mungkin dapat memberikan hasil yang jauh lebih baik karena akan dapat menghindarkan komplikasi yang berat. Keterlambatan dalam penanganan AHO bisa berakibat fatal yaitu kematian, abses, septic arthritis (infeksi pada sendi), patah tulang, kontraktur sendi, osteomyelitis kronis, hingga gangguan pertumbuhan. Oleh karena itu, jangan pernah menunda untuk membawa anak anda ke dokter apabila menunjukkan gejala seperti yang tertulis diatas.

Membedong Bayi dengan Benar

Oleh: dr. Yuliana

19288162_b745c1b3dc11Mem”bedong” bayi atau membungkus bayi dengan kain setelah bayi lahir, sangat umum dipraktekkan di Indonesia. Sebenarnya, teknik membungkus bayi dengan kain setelah lahir dapat dilakukan, asal jangan terlalu ketat. Namun, masih banyak tenaga medis [dokter, bidan, dukun bayi] yang kurang memahami bahwa sebenarnya membungkus bayi terlalu ketat, sehingga memposisikan sendi panggul bayi dalam keadaan ekstensi dan adduksi [lurus dan arahnya mendekati garis tengah tubuh], sangat tidak dianjurkan. Mengapa? Saat lahir, 1 dari 80 bayi mengalami kelenturan sendi panggul yang berlebihan, dan hal ini mungkin bersifat genetik [Salter, 1999]. Jika setelah lahir, atau pada beberapa minggu pertama usia bayi, sendi panggul diposisikan dalam keadaan lurus/ekstensi dan bayi tersebut memiliki kondisi sendi panggul yang sangat lentur, maka bisa terjadi dislokasi collum femoris [bagian ‘kepala’ tulang paha]. Dislokasi ini kemudian dapat kembali secara spontan atau akan tetap dalam kondisi seperti itu. Sebenarnya, bayi yang sejak lahir mengalami kelenturan sendi panggul abnormal, secara spontan akan mengalami stabilisasi sendiri dalam 2 bulan pertama. Namun, jika sendi tersebut dipertahankan dalam posisi lurus/ekstensi maka akan cenderung mengalami dislokasi atau subluksasi. Kondisi ini akan menyebabkan terjadinya perubahan skunder yang progresif pada semua struktur di dalam maupun di sekitar sendi panggul. Dan pada akhirnya akan menyebabkan bayi tersebut pada suatu kelainan yang disebut dengan Developmental Dysplasia of the Hip [DDH], suatu kelainan yang apabila tidak diterapi dengan tepat akan mengganggu kualitas hidup individu. Continue reading

Osteopenia of Prematurity

Ditulis oleh:

dr. Yuliana

Bayi-bayi prematur memiliki risiko tinggi untuk terjadinya penurunan bone mineral content (BMC) yang berakibat terjadinya bone disease, yang secara bervariasi disebut sebagai metabolic bone disease of prematurity, neonatal rickets atau osteopenia of prematurity. Osteopenia of prematurity (OOP) sendiri seringkali sulit dan terlambat untuk dideteksi karena pada awal-awal OOP ini tidak menunjukkan gejala klinis. Padahal menurut Jurnal of Perinatology tahun 1984, OOP merupakan preventable disease sebelum terjadinya manifestasi atau komplikasi yang lebih lanjut, misalnya adanya suatu fraktur yang tidak diketahui penyebabnya.

Osteopenia diartikan sebagai penurunan densitas tulang yang akhirnya mengakibatkan penurunan kekuatan tulang. Osteopenia of prematurity (OOP) umumnya didapatkan pada bayi-bayi dengan berat lahir rendah. Kondisi ini menempatkan bayi-bayi prematur pada risiko tinggi untuk terjadinya fraktur. Menurut Bridget K. Cross dalam jurnalnya yang berjudul Osteopenia Of Prematurity: Prevention and Treatment, 30% bayi-bayi dengan berat lahir kurang dari 1250 gram menderita OOP. Bahkan sumber lain menyebutkan bahwa bayi dengan berat lahir kurang dari 1500 gram dan usia kehamilan kurang dari 32 minggu, insiden osteopenia terjadi hampir tanpa kecuali. Hal ini tidak mengejutkan karena 80% mineralisasi tulang janin terjadi pada trimester ketiga dari kehamilan.


Pada trimester ketiga dari kehamilan, sejumlah besar kalsium dan fosfor ditransfer secara aktif dari ibu ke janin, dimana 99% kalsium dan 85% fosfor berada dalam tulang sehingga terjadi pertumbuhan tulang bayi. Selain itu, aktivitas janin juga meningkat selama waktu ini, dimana aktivitas ini penting untuk perkembangan tulang. Hal sebaliknya didapatkan pada bayi-bayi prematur, bayi prematur tidak mendapatkan kalsium dan fosfor dalam jumlah yang diperlukan untuk membentuk tulang yang kuat. Adanya pembatasan aktivitas juga didapatkan pada bayi-bayi prematur yang berakibat meningkatnya bone resorption, penurunan bone mass, dan peningkatan hilangnya kalsium urin. Faktor-faktor lain yang juga meningkatkan risiko terjadinya OOP adalah kadar vitamin D yang rendah atau ketidakmampuan untuk melakukan metabolisme vitamin D yang baik, yang menyebabkan terhambatnya absorbsi kalsium dari usus dan ginjal, penggunaan diuretik dan steroid jangka panjang, nutrisi parenteral total yang lama, unsupplemented human milk, penggunaan formula kedelai dan elemental, bronchopulmonary dysplasia, serta penggunaan metilxanthin dan aminoglikosida yang meningkatkan ekskresi kalsium urin.
Gambaran klinis dari osteopenia biasanya asimptomatis dan baru muncul pada usia bayi enam sampai dua belas minggu, berupa craniotabes, frontal bossing, penebalan dari pergelangan tangan dan kaki, rachitic rosary (pembesaran epiphysial plate pada costochondral junction), pertumbuhan linear terhambat, hipoplasi enamel, serta adanya gangguan respirasi karena proses mineralisasi yang jelek pada costae dan kelemahan otot akibat hypophospatemic myopathy.

Berikut adalah perubahan khas yang terjadi pada distal radius dan ulna, dimana terjadi pembesaran epiphysial plate

Berikut gambar rachitic rosary, yang merupakan pembesaran klinis epiphysial plates pada costochondral junction

Continue reading