The Revised WHO/UNICEF Recommendation For The Clinical Management of Acute Childhood Diarrhea

Oleh: dr. Yuliana

Beberapa waktu lalu, yaitu tanggal 25-27 Mei 2009 telah diselenggarakan Asian Conference on Diarrhoeal Disease and Nutrition (ASCODD) XII, bertempat di Yogyakarta, Indonesia. Dengan menghadirkan pembicara-pembicara dari berbagai negara, antara lain Bangladesh, Filipina, Hongkong, Thailand, Afrika Selatan, Amerika Serikat, Jepang, dan juga dari Indonesia sendiri, pertemuan ilmiah ini membahas masalah-masalah yang berkaitan dengan diare dan nutrisi pada anak dari berbagai pandangan. Salah satunya adalah rekomendasi dari WHO/UNICEF untuk manajemen klinis diare akut pada anak.

Formula Baru ORS (tahun 2004) yang disarankan adalah:

Picture1

Dalam topik yang berjudul “Global Progress in Implementing The Revised WHO/UNICEF Recommendation For The Clinical Management of Acute Childhood Diarrhoea”, Martin Weber, Dr. med., Ph.D., DTM&H menyampaikan berbagai penelitian yang menghasilkan 2 kebijakan terbaru, yaitu penggunaan Oral Rehydration Solution (ORS/oralit) dengan formula baru, yaitu dengan osmolaritas yang lebih rendah menggantikan ORS formula lama, serta penggunaan zinc sebagai essential drug dalam penatalaksaan diare akut pada anak.

Berdasarkan penelitian, dengan ORS formula baru ini dapat mengurangi 25-30% jumlah feces yang keluar dan volume cairan yang hilang selama diare. Selain itu kejadian vomiting (muntah), yang umumnya menyertai diare juga menurun sampai 30%, dan kebutuhan akan pemberian cairan melalui jalur intravena juga menurun lebih dari 30%.

Sedangkan untuk penggunaan zinc dalam terapi diare akut, berdasarkan Zinc Investigators’ Collaborative Group (AJCN, 2000), pemberian zinc dapat menurunkan durasi diare akut sebesar 15% dan durasi diare persisten sebesar 24% serta dapat menurunkan angka kegagalan terapi atau kematian pada diare persisten sebesar 42%. Suplementasi zinc selama 10-14 hari memberikan efek jangka panjang terhadap kejadian sakit pada anak selama 2-3 bulan setelah terapi. Pemberian zinc akan menurunkan prevalensi diare sebesar 34% dan insiden pneumoni sebesar 26% (Pediatrics, 1999). Pemberian zinc yang disarankan adalah sebesar 10-20 mg/hari selama 10-14 hari.

Advertisements

5 Langkah Tuntaskan Diare

Selama ini pengobatan diare selalu identik dengan pemberian antibiotik, bahkan menurut penelitian Prof. dr. S. Yati Sunarto, SpA(K), penggunaan antibiotik tidak rasional pada diare akut di RS non pendidikan mencapai hampir 100%, sedangkan di RS pendidikan sebesar 18%. Bukannya menyembuhkan diare, pemberian antibiotik justru dapat menyebabkan antibiotic associated diarrhea.

Diare secara umum diartikan sebagai buang air besar lebih dari 3 kali dalam 24 jam dengan konsistensi cair. Akan tetapi definisi ini tidak berlaku pada bayi yang baru lahir di bawah satu bulan, karena pada kelompok usia ini, kadar enzim laktosanya masih rendah sehingga akan sering buang air besar bahkan hingga 7-8x sehari. Sebagian besar diare memang disebabkan oleh infeksi bakteri, virus, dan parasit. Tetapi lebih dari 50% diare penyebabnya adalah rotavirus. Jadi, pemberian antibiotik yang selama ini selalu dilakukan dalam mengobati diare lebih banyak tidak memberi manfaat, karena diare yang diakibatkan rotavirus merupakan self limiting disease.

Dalam Continuous Professional Development Konggres Nasional Ilmu Kesehatan Anak ke-14 di Surabaya, Juli 2008, diungkapkan 5 pilar dalam penatalaksanaan diare yang baru:g

1. 1. Oralit baru, dapat mengurangi rasa mual dan muntah. Berikan segera bila anak diare, untuk mencegah dan mengatasi dehidrasi.

2 2. ZINC diberikan selama 10 hari berturut-turut untuk mengurangi lama dan beratnya diare, mencegah berulangnya diare selama 2-3 bulan. Zinc juga dapat mengembalikan napsu makan anak.

3. 3. ASI dan makanan tetap diteruskan sesuai umur anak dengan menu yang sama pada waktu anak sehat untuk mencegah kehilangan berat badan serta pengganti nutrisi yang hilang.

4 4. Antibiotik jangan diberikan kecuali dengan indikasi misalnya diare berdarah, kolera.

5 5. Nasihat pada ibu atau pengasuh: kembali segera jika demam, tinja berdarah, muntah berulang, makan atau minum sedikit, sangat haus, diare makin sering, atau belum membaik dalam 3 hari.

Sumber:

Ethical Digest. Mei 2008. Gastroenteritis Pada Anak. Semijurnal Farmasi dan Kedokteran Ethical Digest: hal 76.

Ethical Digest. Agustus 2008. Kongres Nasional Ilmu Kesehatan Anak ke 14: Penanganan Diare Anak Terkini. Semijurnal Farmasi dan Kedokteran Ethical Digest: hal 76.

Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2004. Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak Edisi I. Jakarta: Badan Penerbit IDAI.

Gizi Buruk Ternyata Masih Mengancam..

LIMA BALITA ALAMI GIZI BURUK KRONIS DI MALANG

KOMPAS.com

MALANG, JUMAT 6 Maret 2009

Selama kurun waktu Januari-Februari 2009 lima anak di bawah lima tahun (balita) di Kabupaten Malang, Jawa Timur, menderita gizi buruk kronis jenis marasmus, kwashiorkor, dan marasmus kwashiorkor.

221104pKepala Dinas Kesehatan Kabupaten Malang dr Agus Wahyu Arifin, Jumat (6/3), menyebutkan, dua balita berasal dari Kecamatan Pujon, dua dari Kecamatan Ngajum dan satu lagi dari Kecamatan Sumbermanjing Wetan.

“Gizi buruk kronis ini rata-rata diikuti penyakit penyerta bawaan dan saat ini mereka dalam pengawasan ketat Dinkes, termasuk melalui intervensi asupan nutrisi dan gizi selama 90 hari berturut-turut. Biaya perawatan di rumah sakit ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah,” katanya.

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

Pada tahun 2008 jumlah penderita gizi buruk kronis di Kabupaten Malang mencapai 14 balita dan empat di antaranya meninggal dunia. Sedangkan penderita gizi kurang pada tahun 2008 mencapai 300 balita dan tahun 2007 sebanyak 113 balita.

ABD

Sumber : Ant

Miris memang.. Di jaman yang semakin berkembang ini, dimana angka kejadian obesitas anak semakin tinggi, ternyata di sisi lain masih dijumpai adanya anak-anak yang mengalami gizi buruk alias malnutrisi. Hal ini jelas menjadi cambuk bagi kita semua untuk lebih berusaha lagi meningkatkan pelayanan bagi anak-anak yang merupakan cerminan masa depan bangsa.

Apakah kita ingin generasi kita seperti ini????


Children and a nurse attendant at a Nigerian orphanage in the la

Tidak semua anak kurang gizi tampak kurus..

Pada kurang gizi tipe kwashiorkor, anak tampak gemuk, tapi bukan gemuk seperti yang diharapkan. Kalau diperhatikan dengan seksama, sebenarnya yang terjadi pada anak kurang gizi tipe kwashiorkor ini adalah anak mengalami bengkak yang dapat terjadi pada seluruh tubuh, disertai wajah sembab dan membulat akibat kurangnya protein dalam tubuh. Gejala lain yang seringkali juga dijumpai antara lain mata sayu, rambut tipis, kemerahan seperti rambut jagung, mudah dicabut dan rontok, cengeng, rewel dan apatis, pembesaran hati, otot mengecil (hipotrofi), bercak merah ke coklatan di kulit dan mudah terkelupas (crazy pavement dermatosis), sering disertai penyakit infeksi terutama diare dan anemia.

Sedangkan tipe lain dari kurang gizi yang lebih mudah dikenali, yaitu tipe marasmus. Anak tampak sangat kurus, terlihat seperti tulang terbungkus kulit, wajah seperti orang tua, cengeng dan rewel, kulit keriput, jaringan lemak subkutan minimal/tidak ada, perut cekung, iga gambang, sering disertai penyakit infeksi dan diare. Tipe ini disebabkan karena kurangnya kandungan kalori dalam tubuh anak.


Bisa juga didapati tipe campuran dari keduanya, yaitu marasmus kwashiorkor.

Marasmus 27972839_239ff61243



Kwasiorkhor

kwashiorkor1

Pengobatan pada anak dengan gizi buruk (malnutrisi energi protein) seperti yang ditulis dalam Pedoman Diagnosa dan Terapi Ilmu Kesehatan Anak FK Unair Surabaya, meliputi:

A. Prinsip dasar penanganan 10 langkah utama (diutamakan penanganan kegawatan)

1. Penanganan hipoglikemi

2. Penanganan hipotermi

3. Penanganan dehidrasi

4. Koreksi gangguan keseimbangan elektrolit

5. Pengobatan infeksi

6. Pemberian makanan

7. Fasilitasi tumbuh kejar

8. Koreksi defisiensi nutrisi mikro

9. Melakukan stimulasi sensorik dan perbaikan mental

10. Perencanaan tindak lanjut setelah sembuh

B. Pengobatan penyakit penyerta, antara lain kekurangan vitamin A, kelainan kulit, infeksi parasit/cacing, diare yang terus menerus, tuberkulosa.

C. Penanganan kegawatan: syok dan anemia berat.

Lalu.. bagaimana mencegahnya?

Karena ada banyak faktor yang menjadi penyebab timbulnya gizi buruk, maka untuk mencegahnya bisa dilakukan beberapa langkah:

1. Penyuluhan pada masyarakat mengenai pola makan dan gizi seimbang (perbandingan yang sesuai antara jumlah karbohidrat, lemak, protein, vitamin dan mineral berdasarkan umur dan berat badan).

2. Pemantauan tumbuh kembang dan penentuan status gizi secara berkala (sebulan sekali pada tahun pertama).

3. Dari segi faktor sosial: mencari kemungkinan adanya pantangan untuk menggunakan bahan makanan tertentu yang sudah berlangsung turun-temurun yang dapat menyebabkan terjadinya gizi buruk.

4. Dari segi faktor ekonomi: kemiskinan tetap menjadi masalah utama yang butuh jalan keluar. Tetap harus ditekankan perlunya bahan makanan yang bergizi di samping kuantitasnya.

5. Mencegah terjadinya infeksi. Infeksi derajat apapun dapat memperburuk status gizi.Malnutrisis energi protein, walaupun dalam derajat ringan, menurunkan daya tahan tubuh terhadap infeksi.

Sumber:

Ant. 2009. Lima Balita Alami Gizi Buruk Kronis di Malang. (Online). (http://www.kompas.com, diakses tanggal 10 Maret 2009).

Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2004. Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak Edisi I. Jakarta: Badan Penerbit IDAI.

Hidayat, Boerhan., dkk. 2006. Pedoman Diagnosa dan Terapi: Kurang Energi Protein (KEP). Surabaya: Bag./SMF IKA FK Unair/Dr.Sutomo.