Mengenal Cacar Air

Oleh: dr. Yuliana

(diterbitkan oleh Malang Pos, 9 Juni 2009)

Cacar Air (Varicella, Chickenpox), yang dikenal orang Jawa sebagai “cangkrangen”, adalah salah satu penyakit yang umum ditemui pada anak-anak. 90% kasus cacar air terjadi pada anak di bawah sepuluh tahun, dengan kejadian tertinggi pada usia 2-6 tahun. Penyakit ini disebabkan karena infeksi virus Varicella Zoster (VZV). Virus ini bisa ditularkan melalui percikan ludah penderita atau melalui kontak langsung dengan cairan kulit yang melepuh atau benda-benda yang terkontaminasi oleh cairan tersebut, misalnya seprai, selimut, dan handuk. Penderita bisa menularkan penyakitnya mulai dari saat timbulnya gejala sampai kulit yang melepuh telah mengering. Karena itu, untuk mencegah penularan, sebaiknya penderita diisolasi (diasingkan) selama masa itu. Apabila luka telah berubah menjadi keropeng (krusta), maka pasien tidak lagi menularkan penyakit.

Gejala yang ditimbulkan penyakit cacar air ini umumnya lebih ringan pada anak kecil dibandingkan dengan anak yang lebih besar atau orang dewasa. Gejala mulai timbul dalam waktu 10-21 hari setelah terinfeksi. Ditandai dengan demam ringan, sakit kepala, rasa tidak enak badan, lemas, nyeri tenggorokan, atau pembesaran kelenjar getah bening di leher bagian belakang. 24-36 jam kemudian muncul bintik-bintik merah datar (makula) yang dimulai dari badan kemudian menyebar ke wajah, lengan dan tungkai. Kemudian bintik tersebut menonjol (papula), membentuk lepuhan berisi cairan (vesikel) yang terasa gatal, yang akhirnya akan mengering. Ruam ini muncul secara bertahap selama 3-4 hari sehingga pada puncak masa sakit dapat ditemui ruam dalam semua tahapannya (bintik-bintik, benjolan berisi cairan, dan ruam yang mengering). Selain di kulit, ruam juga dapat muncul di selaput lendir (mukosa), misalnya bagian dalam mulut atau vagina. Umumnya ruam membutuhkan sekitar 7 – 14 hari untuk sembuh.

Papula di mulut cepat pecah dan membentuk luka terbuka (ulkus), yang seringkali menyebabkan gangguan menelan. Ulkus juga bisa ditemukan di kelopak mata, saluran pernafasan bagian atas, rektum dan vagina. Papula pada pita suara dan saluran pernafasan atas kadang menyebabkan gangguan pernafasan. Untuk menegakkan diagnosa penyakit ini, biasanya cukup dengan riwayat penyakit dan pemeriksaan klinis, tanpa perlu pemeriksaan tambahan.

Penyakit ini biasanya dapat sembuh sempurna tanpa masalah yang berarti. Tetapi pada beberapa kasus, yaitu umumnya pada orang dewasa atau anak-anak dengan gangguan sistem kekebalan, infeksi ini bisa berat atau bahkan berakibat fatal. Komplikasi yang muncul bisa berupa radang paru-paru karena virus, peradangan jantung, peradangan hati, infeksi bakteri (erisipelas, pioderma, impetigo bulosa), maupun infeksi otak (ensefalitis). Luka cacar air ini jarang menyebabkan pembentukan jaringan parut, kalaupun ada, hanya berupa lekukan kecil di sekitar mata. Luka cacar air bisa terinfeksi akibat garukan dan biasanya disebabkan oleh bakteri staphylococcus.

Karena penyebabnya virus, maka penyakit ini dapat sembuh dengan sendirinya dan setelah itu anak akan memiliki kekebalan dan tidak akan menderita cacar air lagi. Pengobatan yang diberikan umumnya hanya untuk meringankan gejala yang timbul. Pasien dianjurkan untuk istirahat (tirah baring) secukupnya, untuk menurunkan demam, sebaiknya digunakan asetaminofen, jangan aspirin. Sedangkan untuk mengurangi rasa gatal dan mencegah penggarukan, sebaiknya kulit dikompres dingin. Bisa juga diberikan bedak salisilat, diioleskan losyen kalamin, antihistamin atau losyen lainnya yang mengandung mentol atau fenol. Yang penting dilakukan adalah menjaga agar jangan sampai luka ini terinfeksi bakteri, yaitu dengan selalu menjaga kebersihan. Kulit dicuci sesering mungkin dengan air dan sabun, anak boleh dimandikan bila tidak ada demam. Kebersihan tangan selalu dijaga, kuku dipotong pendek, pakaian tetap kering dan bersih.

Pemberian terapi antivirus masih kontroversial. Antivirus hanya dianjurkan diberikan pada penderita cacar air dengan komplikasi yang berat, cacar air pada bayi di bawah usia 28 hari atau orang dewasa, maupun cacar air pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang rendah. Pemberian antivirus ini harus dilakukan dalam jangka waktu 48 jam setelah ruam pertama kali muncul. Antivirus yang bisa diberikan yaitu asiklovir dengan dosis 20mg/kgbb/kali dalam 4 dosis selama 5 hari. Sedangkan antibiotik hanya diberikan jika ada infeksi kulit oleh bakteri.

Pencegahan untuk cacar air bisa dilakukan dengan pemberian imuniasi. Mengingat kejadian cacar air di Indonesia terbanyak terjadi pada anak yang telah bergaul dengan anak seumurnya (awal sekolah) dan penularan terbanyak terjadi pada saat usia sekolah, maka imunisasi aktif dianjurkan diberikan mulai usia masuk sekolah, yaitu 5 tahun. Atas pertimbangan tertentu, imunisasi ini dapat diberikan setelah usia ≥ 1 tahun. Pada keadaan terjadi kontak dengan pasien cacar air, pencegahan vaksin dapat diberikan dalam waktu 72 jam setelah penularan.

Advertisements

Infeksi Saluran Kemih pada Anak

oleh: dr. Yuliana

(diterbitkan oleh Malang Pos, 17 Mei 2009)

Infeksi saluran kemih ternyata tidak hanya diderita oleh orang dewasa, anak-anakpun bisa terkena. Bahkan infeksi saluran kemih ini merupakan penyebab demam kedua tersering setelah infeksi akut saluran napas pada anak berusia kurang dari 2 tahun. Pada bayi berusia kurang dari 3 bulan, infeksi ini lebih banyak didapatkan pada laki-laki, tetapi pada usia lebih dari 3 bulan kejadian infeksi saluran kemih ini jauh lebih banyak pada anak perempuan.

Infeksi saluran kemih diartikan sebagai adanya pertumbuhan bakteri di dalam saluran kemih yang mencapai ≥ 100.000 unit koloni per ml urin segar yang diambil pagi hari. Infeksi ini dapat meliputi infeksi di jaringan ginjal, kandung kemih, sampai saluran kemih. Apabila tidak diobati dengan cepat dan tepat, maka infeksi ini dapat mengakibatkan komplikasi yang lebih serius, misalnya kerusakan ginjal yang menetap sampai terjadi gagal ginjal.

Pada orang dewasa maupun anak yang lebih besar yang terinfeksi seringkali akan memberikan keluhan yang mudah dikenali, misalnya nyeri saat kencing, sering kencing, bau kencing yang menyengat, nyeri pinggang/perut bagian bawah. Lain halnya, bila infeksi ini diderita pada bayi atau anak yang lebih kecil, seringkali gejala yang muncul tidak khas. Hal inilah yang akhirnya menyebabkan orang tua bahkan tenaga medis terlambat mendeteksi sehingga berakibat pengobatan yang diberikan tidak tepat. Jika demikian, bagaimana kita dapat mengenali seorang bayi atau anak yang menderita infeksi saluran kemih?

Apabila seorang bayi atau anak menderita demam, rewel, muntah, mencret, tidak mau minum atau makan, sampai berat badan tidak naik dan gagal tumbuh, maka sudah seharusnya kita curiga bahwa mungkin ia terkena infeksi saluran kemih, dan harus dibawa ke dokter. Pada pemeriksaan fisik, dokter biasanya akan mendapatkan adanya demam, nyeri ketok pada daerah pinggang belakang, nyeri tekan pada perut bagian tengah bawah, atau mungkin juga didapatkan kelainan pada kemaluan, atau kelainan pada tulang belakang seperti spina bifida. Kemudian sebagai pemeriksaan tambahan, dokter biasanya akan menyarankan dilakukan pemeriksaan urin (kencing) untuk memastikan ada atau tidaknya infeksi. Diagnosis pasti infeksi saluran kemih ditegakkan dengan ditemukannya bakteriuria (bakteri dalam urin) pada pembiakan (kultur) urin, yang jumlahnya tergantung dari metoda pengambilan sampel. Akan tetapi, pengambilan sampel urin pada anak yang lebih kecil dan bayi kadang mengalami kesulitan. Pemeriksaan penunjang lain dapat dilakukan untuk mencari faktor risiko terjadinya infeksi saluran kemih, misalnya dengan pemeriksaan ultrasonografi, foto polos perut, dan pemeriksaan radiologi lainnya. Pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin serum (darah) dilakukan untuk menilai fungsi ginjal.

Penyebab terbanyak infeksi saluran kemih pada anak adalah bakteri Escherichia coli. Oleh karena itu penanganan yang diberikan adalah dengan pemberian antibiotik selama 7-10 hari untuk menghilangkan kuman penyebab. Selain itu juga diberikan asupan cairan yang cukup dan dilakukan perawatan kebersihan daerah sekitar saluran kencing. Sedangkan tindakan bedah sesuai dengan kelainan saluran kemih yang ditemukan.

Infeksi saluran kemih sering berulang pada anak-anak, oleh karena itu pencegahan penting untuk dilakukan. Pencegahan dapat dilakukan dengan minum air dalam jumlah yang cukup, tidak menahan kencing, selalu menjaga kebersihan, terutama sekitar saluran kemih, mengganti celana dalam secara teratur dan apabila mengalami sulit buang air besar harus segera ditangani. Sirkumsisi (sunat) dinilai juga dapat mengurangi terjadinya infeksi saluran kemih. Pada beberapa kasus misalnya anak dengan kelainan ginjal, kelainan anatomik atau fungsional yang menyebabkan sumbatan saluran kemih, antibiotik pencegahan diperlukan.