Follow Up Bayi Prematur

oleh: dr. Yuliana

8Kelahiran prematur tidak hanya berdampak buruk pada saat lahir, tapi juga berefek jangka panjang pada bayi. Bayi prematur menurut WHO diartikan sebagai bayi yang lahir dengan usia kehamilan kurang dari 37 minggu, dihitung dari hari pertama haid terakhir (HPHT) ibu. Pada saat lahir atau beberapa saat setelah lahir, bayi-bayi prematur ini berisiko lebih besar mengalami infeksi, hipotermia, hipoglikemia, gangguan napas (respiratory distress syndrome), kuning (neonatal jaundice) sampai kernicterus atau penurunan kesadaran akibat tingginya kadar bilirubin indirek dalam darah bayi. Bayi-bayi prematur ini juga berisiko mengalami perdarahan otak intraventrikular yang bisa menimbulkan dampak jangka panjang yang serius.

Dampak jangka panjang lainnya antara lain risiko tinggi terjadinya gangguan pertumbuhan, perkembangan, pendengaran dan pengllihatan yang terjadi pada 10-15% bayi-bayi prematur. Oleh karena itu diperlukan follow up yang intensif dan rutin.

Pertumbuhan

Selama dua tahun pertama kehidupan, pertumbuhan dicatat menggunakan umur koreksi untuk prematuritas.

Umur koreksi = umur kronologis – prematuritas

Grafik pertumbuhan untuk bayi prematur rata-rata telah didisain khusus. Setelah bayi mencapai usia 2 tahun, grafik pertumbuhan standar dapat digunakan. Tumbuh kejar (catch-up growth) pada bayi prematur biasanya terjadi selama 2-3 tahun pertama dan maksimum pada saat usia 36-40 minggu setelah pembuahan. Sedikit terjadi setelah usia 3 tahun. Biasanya pertama kali terlihat pada lingkar kepala bayi, diikuti dengan berat dan panjang badan. Bayi prematur dengan retardasi pertumbuhan dalam rahim (IUGR) dan tanpa catch-up growth mempunyai risiko mengalami keterlambatan perkembangan serta kelainan medis yang lebih besar dibandingkan dengan bayi prematur dengan laju pertumbuhan normal. Bahkan saat remaja, anak-anak yang lahir prematur lebih kecil dibandingkan anak yang tidak lahir prematur. Menarche (menstruasi pertama kali) juga terjadi lebih lambat pada anak yang lahir prematur. Suatu penelitian menunjukkan bahwa perempuan yang lahir prematur cenderung melahirkan bayi prematur pula.

Jadwal follow up dilakukan tergantung kondisi medis. Pada usia koreksi kurang dari 40 minggu, follow up dilakukan setiap 2 minggu, setelah bayi mencapai usia aterm (40 minggu), follow up dilakukan tiap bulan. Yang dinilai adalah berat badan, panjang badan, dan lingkar kepala.

Perkembangan

Perkembangan bayi selama 2 tahun pertama ini harus di-plot dari perkiraan tanggal lahir bayi yang seharusnya bukan dari tanggal lahir bayi. Kuesioner praskrining perkembangan Denver, DDST, dan The Gesell Screening Inventory merupakan uji yang sudah diakui. Skrining perkembangan tidak menggantikan pemeriksaan saraf. Neonatal Neurodevelopmental Examination perlu dilakukan untuk menilai refleks dan kekuatan otot, saraf otak dan fungsi motorik, respons sensorik dan perilaku.

Penglihatan2

Strabismus (juling) lebih sering didapatkan pada bayi prematur dibanding dengan bayi aterm. Karena juling dapat menjadi tanda kelainan pada mata, diperlukan konsultasi dengan dokter bila dijumpai juling pada bayi. Pada banyak bayi berat lahir sangat rendah, juling pada usia enam minggu akan menghilang saat mencapai usia 9 bulan sedangkan juling yang timbul saat usia 9 bulan cenderung menetap. The American Academy of Pediatrics, the American Association for Pediatric Ophthalmology and Strabismus, dan the American Academy of Ophthalmology menganjurkan dilakukannya pemeriksaan skrining awal pada usia 4-6 minggu, dengan follow-up tergantung hasil pemeriksaan awal.

Pendengaran

WHO mendefinisikan tuli sebagai hilangnya pendengaran rata-rata lebih dari 25 dB pada frekuensi 500, 1.000 dan 2.000 Hz. Berdasarkan definisi tersebut, sekitar 5% bayi prematur yang lahir sebelum usia kehamilan 32 minggu mengalami ketulian pada usia 5 tahun. Para orang tua harus memperhatikan adanya tanda-tanda gangguan pendengaran pada bayi. Respons bayi terhadap suara keras dapat diperiksa oleh dokter dan kemampuan mengerti dan mengekspresikan bahasa dapat dinilai dengan alat skrining perkembangan. Konsultasi dengan ahli THT dapat dilakukan jika orang tua melihat tanda-tanda hilangnya pendengaran atau jika ditemukan kelainan saat skrining.

Beberapa kondisi seperti hiponatremia (kadar natrium dalam darah yang rendah), alkalosis metabolik dan penggunaan ventilator mekanik dalam jangka waktu lama yang merupakan faktor resiko terjadinya ketulian. Faktor resiko lainnya antara lain penggunaan obat golongan aminoglikosida atau furosemide.

SUMBER:

Trachtenbarg, David E, Golemon, Thomas B. 1998. Care of the Premature Infant: Part I.

Monitoring Growth and Development. (Online). (http://www.aafp.org/afp/980501ap/trachten.html, diakses tanggal 22 Juni 2009).

Patient UK. 2008. Premature Babies and Their Problems. (Online). (http://www.patient.co.uk/ showdoc/40024676/, diakses tanggal 22 Juni 2009).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: