Retinopathy of Prematurity

oleh: dr. Yuliana

Membahas kasus yang dialami si kembar, Jared dan Jayden, putra dari Ibu Juliana yang mengalami gangguan penglihatan bahkan salah satunya mengalami kebutaan total pada kedua matanya, sungguh mengundang pertanyaan di benak kita. Apa sih sebenarnya retinopathy of prematurity yang disebut-sebut sebagai penyebab hilangnya penglihatan yang normal pada kedua bocah kembar tersebut? Berikut akan dibahas secara singkat mengenai retinopathy of prematurity (ROP) atau yang sering juga dikenal retrolental fibroplasia (RLF).

Retinopathy of prematurity (ROP) adalah kelainan pada mata yang terjadi pada bayi-bayi prematur. Kelainan ini disebabkan5 karena adanya pertumbuhan pembuluh darah retina abnormal yang dapat menyebabkan perlukaan atau lepasnya retina. ROP dapat berlangsung ringan dan membaik dengan sendirinya, tetapi bisa juga menjadi serius dan mengakibatkan kebutaan. Semua bayi dengan berat lahir kurang dari 1500 gram atau usia kehamilan kurang dari 32 minggu berisiko mengalami ROP, tetapi pada bayi-bayi dengan berat lahir semakin kecil dan semakin muda maka risiko terjadinya ROP semakin meningkat. Pemberian oksigen tambahan pada bayi prematur merupakan salah satu faktor risiko yang menyebabkan memberatnya ROP, tetapi bukan merupakan faktor utama terjadinya ROP. Pembatasan pemberian oksigen tambahan pada bayi prematur tidak secara langsung akan menurunkan kejadian ROP, malah akan meningkatkan komplikasi sistemik lain akibat kondisi kekurangan oksigen (hipoksia).

ROP terjadi pada 50% bayi prematur dengan berat lahir kurang dari 1250 gram dan 10%nya berkembang menjadi ROP stadium 3 sedangkan 90%nya berlangsung ringan dan tidak memerlukan pengobatan.

Pada bayi yang lahir dengan usia kehamilan 23-28 minggu, pemeriksaan mata pertama harus dilakukan pada usia 4-5 minggu. Sedangkan pada bayi yang lahir dengan usia kehamilan di atas 29 minggu, pemeriksaan dilakukan sebelum keluar dari rumah sakit. Bayi dengan ROP berisiko besar terjadi strabismus (juling), g laukoma, katarak, dan kelainan refraksi (rabun jauh), sampai buta. Oleh karena itu harus dilakukan pemeriksaan berkala setiap tahun untuk mencegah dan mengatasi kondisi-kondisi tersebut.

7Pemeriksaan mata bayi dilakukan dengan menggunakan oftalmoskop indirek. Klasifikasi ROP ditetapkan berdasar kan International Classification of Retinopathy of Prematurity (ICROP). Sistem ini menggunakan beberapa parameter untuk mendeskripsikan ROP, yaitu lokasi dari penyakit (zona 1,2 dan 3), perluasan melingkar dari penyakit (jam 1-12), keparahan penyakit (stadium 1-5), serta ada tidaknya “plus disease”.

ropZona Retina

Zona 1 daerah posterior retina

Zona 2 annulus dengan batas dalam zona 1 dan batas luar jarak dari nervus optikus ke nasal ora serrata

Zona 3 residual temporal crescent of the retina.

Stadium

Stadium 1 garis batas kabur

Stadium 2 elevated ridge

Stadium 3 extraretinal fibrovascular tissue

Stadium 4 sub-total retinal detachment

Stadium 5 total retinal detachment

Plus disease” dapat muncul pada stadium manapun. Menunjukkan tingkat yang signifikan dari dilatasi vaskular dan tortuosity yang ada di pembuluh darah retina belakang. Hal ini menggambarkan adanya peningkatan aliran darah yang melewati retina.

Terapi ROP yang dianjurkan adalah laser. Selain laser, ada juga cryotherapy, akan tetapi cryotherapy tidak lagi rutin digunakan pada ablasio retina bayi prematur, karena berefek samping inflamasi dan lid swelling. Scleral buckling dan/atau bedah vitrectomy dapat dipertimbangkan pada ROP berat (stadium 4-5).

Sumber:

Anonim1. 2007. Retinopathy of Prematurity. (Online). (http://biosingularity.files.wordpress.com/ 2007/07/4330_web.jpg, diakses tanggal 22 Juni 2009).

Anonim2. 2009. Retinopathy of Prematurity. (Online). (http://www.gruiasfightforsight.com/ img/photo.jpg, diakses tanggal 22 Juni 2009).

Bashour, Mounir. 2008. Retinopathy of Prematurity. (Online). (http://emedicine.medscape.com/ article/1225022-overview, diakses tanggal 22 Juni 2009).

National Institute of Eye. 2009. Retinopathy of Prematurity. (Online). (http://www.nei.nih.gov/ health/rop, diakses tanggal 22 Juni 2009).

Wikipedia. 2009. Retinopathy of Prematurity. (Online). (http://en.wikipedia.org/wiki/ Retinopathy_of_prematurity, diakses tanggal 22 Juni 2009).

Advertisements

Follow Up Bayi Prematur

oleh: dr. Yuliana

8Kelahiran prematur tidak hanya berdampak buruk pada saat lahir, tapi juga berefek jangka panjang pada bayi. Bayi prematur menurut WHO diartikan sebagai bayi yang lahir dengan usia kehamilan kurang dari 37 minggu, dihitung dari hari pertama haid terakhir (HPHT) ibu. Pada saat lahir atau beberapa saat setelah lahir, bayi-bayi prematur ini berisiko lebih besar mengalami infeksi, hipotermia, hipoglikemia, gangguan napas (respiratory distress syndrome), kuning (neonatal jaundice) sampai kernicterus atau penurunan kesadaran akibat tingginya kadar bilirubin indirek dalam darah bayi. Bayi-bayi prematur ini juga berisiko mengalami perdarahan otak intraventrikular yang bisa menimbulkan dampak jangka panjang yang serius.

Dampak jangka panjang lainnya antara lain risiko tinggi terjadinya gangguan pertumbuhan, perkembangan, pendengaran dan pengllihatan yang terjadi pada 10-15% bayi-bayi prematur. Oleh karena itu diperlukan follow up yang intensif dan rutin.

Pertumbuhan

Selama dua tahun pertama kehidupan, pertumbuhan dicatat menggunakan umur koreksi untuk prematuritas.

Umur koreksi = umur kronologis – prematuritas

Grafik pertumbuhan untuk bayi prematur rata-rata telah didisain khusus. Setelah bayi mencapai usia 2 tahun, grafik pertumbuhan standar dapat digunakan. Tumbuh kejar (catch-up growth) pada bayi prematur biasanya terjadi selama 2-3 tahun pertama dan maksimum pada saat usia 36-40 minggu setelah pembuahan. Sedikit terjadi setelah usia 3 tahun. Biasanya pertama kali terlihat pada lingkar kepala bayi, diikuti dengan berat dan panjang badan. Bayi prematur dengan retardasi pertumbuhan dalam rahim (IUGR) dan tanpa catch-up growth mempunyai risiko mengalami keterlambatan perkembangan serta kelainan medis yang lebih besar dibandingkan dengan bayi prematur dengan laju pertumbuhan normal. Bahkan saat remaja, anak-anak yang lahir prematur lebih kecil dibandingkan anak yang tidak lahir prematur. Menarche (menstruasi pertama kali) juga terjadi lebih lambat pada anak yang lahir prematur. Suatu penelitian menunjukkan bahwa perempuan yang lahir prematur cenderung melahirkan bayi prematur pula.

Jadwal follow up dilakukan tergantung kondisi medis. Pada usia koreksi kurang dari 40 minggu, follow up dilakukan setiap 2 minggu, setelah bayi mencapai usia aterm (40 minggu), follow up dilakukan tiap bulan. Yang dinilai adalah berat badan, panjang badan, dan lingkar kepala.

Perkembangan

Perkembangan bayi selama 2 tahun pertama ini harus di-plot dari perkiraan tanggal lahir bayi yang seharusnya bukan dari tanggal lahir bayi. Kuesioner praskrining perkembangan Denver, DDST, dan The Gesell Screening Inventory merupakan uji yang sudah diakui. Skrining perkembangan tidak menggantikan pemeriksaan saraf. Neonatal Neurodevelopmental Examination perlu dilakukan untuk menilai refleks dan kekuatan otot, saraf otak dan fungsi motorik, respons sensorik dan perilaku.

Penglihatan2

Strabismus (juling) lebih sering didapatkan pada bayi prematur dibanding dengan bayi aterm. Karena juling dapat menjadi tanda kelainan pada mata, diperlukan konsultasi dengan dokter bila dijumpai juling pada bayi. Pada banyak bayi berat lahir sangat rendah, juling pada usia enam minggu akan menghilang saat mencapai usia 9 bulan sedangkan juling yang timbul saat usia 9 bulan cenderung menetap. The American Academy of Pediatrics, the American Association for Pediatric Ophthalmology and Strabismus, dan the American Academy of Ophthalmology menganjurkan dilakukannya pemeriksaan skrining awal pada usia 4-6 minggu, dengan follow-up tergantung hasil pemeriksaan awal.

Pendengaran

WHO mendefinisikan tuli sebagai hilangnya pendengaran rata-rata lebih dari 25 dB pada frekuensi 500, 1.000 dan 2.000 Hz. Berdasarkan definisi tersebut, sekitar 5% bayi prematur yang lahir sebelum usia kehamilan 32 minggu mengalami ketulian pada usia 5 tahun. Para orang tua harus memperhatikan adanya tanda-tanda gangguan pendengaran pada bayi. Respons bayi terhadap suara keras dapat diperiksa oleh dokter dan kemampuan mengerti dan mengekspresikan bahasa dapat dinilai dengan alat skrining perkembangan. Konsultasi dengan ahli THT dapat dilakukan jika orang tua melihat tanda-tanda hilangnya pendengaran atau jika ditemukan kelainan saat skrining.

Beberapa kondisi seperti hiponatremia (kadar natrium dalam darah yang rendah), alkalosis metabolik dan penggunaan ventilator mekanik dalam jangka waktu lama yang merupakan faktor resiko terjadinya ketulian. Faktor resiko lainnya antara lain penggunaan obat golongan aminoglikosida atau furosemide.

SUMBER:

Trachtenbarg, David E, Golemon, Thomas B. 1998. Care of the Premature Infant: Part I.

Monitoring Growth and Development. (Online). (http://www.aafp.org/afp/980501ap/trachten.html, diakses tanggal 22 Juni 2009).

Patient UK. 2008. Premature Babies and Their Problems. (Online). (http://www.patient.co.uk/ showdoc/40024676/, diakses tanggal 22 Juni 2009).

The Revised WHO/UNICEF Recommendation For The Clinical Management of Acute Childhood Diarrhea

Oleh: dr. Yuliana

Beberapa waktu lalu, yaitu tanggal 25-27 Mei 2009 telah diselenggarakan Asian Conference on Diarrhoeal Disease and Nutrition (ASCODD) XII, bertempat di Yogyakarta, Indonesia. Dengan menghadirkan pembicara-pembicara dari berbagai negara, antara lain Bangladesh, Filipina, Hongkong, Thailand, Afrika Selatan, Amerika Serikat, Jepang, dan juga dari Indonesia sendiri, pertemuan ilmiah ini membahas masalah-masalah yang berkaitan dengan diare dan nutrisi pada anak dari berbagai pandangan. Salah satunya adalah rekomendasi dari WHO/UNICEF untuk manajemen klinis diare akut pada anak.

Formula Baru ORS (tahun 2004) yang disarankan adalah:

Picture1

Dalam topik yang berjudul “Global Progress in Implementing The Revised WHO/UNICEF Recommendation For The Clinical Management of Acute Childhood Diarrhoea”, Martin Weber, Dr. med., Ph.D., DTM&H menyampaikan berbagai penelitian yang menghasilkan 2 kebijakan terbaru, yaitu penggunaan Oral Rehydration Solution (ORS/oralit) dengan formula baru, yaitu dengan osmolaritas yang lebih rendah menggantikan ORS formula lama, serta penggunaan zinc sebagai essential drug dalam penatalaksaan diare akut pada anak.

Berdasarkan penelitian, dengan ORS formula baru ini dapat mengurangi 25-30% jumlah feces yang keluar dan volume cairan yang hilang selama diare. Selain itu kejadian vomiting (muntah), yang umumnya menyertai diare juga menurun sampai 30%, dan kebutuhan akan pemberian cairan melalui jalur intravena juga menurun lebih dari 30%.

Sedangkan untuk penggunaan zinc dalam terapi diare akut, berdasarkan Zinc Investigators’ Collaborative Group (AJCN, 2000), pemberian zinc dapat menurunkan durasi diare akut sebesar 15% dan durasi diare persisten sebesar 24% serta dapat menurunkan angka kegagalan terapi atau kematian pada diare persisten sebesar 42%. Suplementasi zinc selama 10-14 hari memberikan efek jangka panjang terhadap kejadian sakit pada anak selama 2-3 bulan setelah terapi. Pemberian zinc akan menurunkan prevalensi diare sebesar 34% dan insiden pneumoni sebesar 26% (Pediatrics, 1999). Pemberian zinc yang disarankan adalah sebesar 10-20 mg/hari selama 10-14 hari.