Chikungunya di Kota Malang Mengalahkan Demam Berdarah

RADAR MALANG Sabtu, 13 Maret 2009

MALANG – Chikungunya menyerang kota Malang. Sedikitnya 109 warga RW 2 dan RW 3 Kelurahan Bareng menderita penyakit akibat gigitan nyamuk chikungunya itu. Bahkan jumlah ini melebihi angka kejadian demam berdarah. Kadinkes kota Malang, Enny Sekar Rengganingati langsung menyatakan chikungunya itu sebagai kejadian luar biasa (KLB)………………………..

Demam chikungunya merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus chikungunya yang merupakan anggota genus Alphavirus dalam family Togoviridae. Disebarkan dengan perantaraan nyamuk Aedes aegepty. Vektor lainnya A. albopictus. Di Afrika disebarkan melalui A. furcifer dan A. africanus.

Infeksi virus Chikungunya onsetnya akut dan manifestasi klinisnya sangat bervariasi. Gejala muncul dalam 4-7 hari setelah masa inkubasi selama 1-12 hari. Pada sebagian besar kasus dapat sembuh sendiri dan diikuti dengan perbaikan gejala dan tanda dalam 5-7 hari walaupun tanpa terapi. 2,4,5

picture2Trias klinis yaitu demam, ruam kemerahan, dan atralgia khas untuk demam Chikungunya. Manifestasi demam bervariasi, dari demam timggi (lebih dari 40 °C) sampai demam yang tidak terlalu tinggi. Suhu dapat meningkat cepat dan kadang-kadang disertai sakit kepala berat, menggigil, mual serta muntah. Demam ini dapat membaik dan kemudian muncul kembali setelah 1-2 hari bebas demam (saddle back fever). Poliatralgia disertai mialgia merupakan gejala khas penyakit ini. Nyeri sendi ini biasanya sangat berat (nyeri bila disentuh), menyebabkan imobilisasi dan menyebabkan pasien tidak dapat tidur selama beberapa hari setelah onset penyakit. Gerakan sendi menyebabkan nyeri hebat sehingga pasien terpaksa membungkuk. Poliartritis yang berpindah-pindah (migratory) biasanya mengenai sendi kecil pada tangan, pergelangan tangan, pergelangan kaki (ankle), dan kaki. Ruam makulopapular dan perdarahan gusi jarang ditemukan pada pasien dewasa (lebih sering pada anak). Ruam kemerahan biasanya muncul pada batang tubuh (trunk) atau pada permukaan ekstensor ekstremitas dan biasanya gatal. Petekie juga dapat ditemukan pada penyakit ini.

Gejala yang muncul pada demam chikungunya ini seringkali menyerupai demam berdarah dengue tetapi tidak menyebabkan perdarahan hebat, renjatan, maupun kematian.

Komplikasi demam Chikungunya adalah myelomeningoensefalitis, sindrom guillain Barre, hepatitis fulminan, miokarditis, dan perikarditis (jarang). Infeksi asimptomatik sering terjadi dan ini menyebabkan terbentuknya imunitas terhadap virus (tidak ada serangan kedua).1

Pada pemeriksaan darah tidak didapatkan kelainan yang khas. Paling sering ditemukan lekopenia dengan predominan limfosit, jarang ditemukan trombositopenia. LED biasanya meningkat. CRP juga meningkat selama fase akut dan dapat bertahan tinggi selama beberapa minggu. Beberapa persen pasien dapat menunjukkan hasil positif pada pemeriksaan faktor rheumatoid selama dan sesudah periode penyakit.

Untuk menegakkan diagnosis demam chikungunya dapat dilakukan isolasi virus, PCR, deteksi antibody IgM dan peningkatan titer antibody IgG. Virus Chikungunya dapat diisolasi dari cairan otak atau kultur virus pada nyamuk atau struktur sel mamalia yang terinfeksi. Antibodi IgM yang diperiksa dengan ELISA dapat muncul dalam dua minggu. Tidak disarankan memeriksa antibody pada minggu pertama. Pada beberapa orang, antibody IgM dapat muncul pada enam sampai duabelas minggu hingga jumlahnya cukup untuk dideteksi dengan ELISA.

Penatalaksanaan demam Chikungunya secara umum dibagi dua, yaitu tata laksana periode akut dan kronik.

Tatalaksana Periode Akut

1. Rawat jalan

Pada perawatan di rumah, yang harus dilakukan adalah istirahat yang cukup, membatasi kegiatan fisik, kompres dingin (membantu mengurangi kerusakan sendi), minum banyak air dengan elektrolit ( setidaknya 2 liter cairan dalam 24 jam), bila mungkin produksi kencing harus diukur dan lebih dari satu liter dalam 24 jam. Demam diatasi dengan paacetamol pada pasien tanpa penyakit ginjal dan hati. Bila demam lebih dari lima hari, nyeri tidak tertahankan, ketidakseimbangan postural dan ekstremitas dingin, penurunan output urin, perdarahan kulit atau melalui lubang manapun dan muntah terus menerus, pasien harus datang ke sarana kesehatan primer.

2. Sarana kesehatan primer

Kemungkinan diagnosis banding yang lain misalnya leptospira, demam denge, malaria dan penyakit lain harus disingkirkan dengan anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium dasar. Harus dicari tanda dehidrasi dan dilakukan rehidrasi dengan adekuat. Dilakukan pemeriksaan darah untuk melihat lekosit dan trombosit. Pengobatan lain merupakan simptomatis dengan paracetamol sebagai antipiretik. Manifestasi kulit dapat diatasi dengan obat topical atau sistemik. Bila hemodinamik tidak stabil, oligouria ( urin < 500 cc/24 jam), perubahan kesadaran atau manifestasi perdarahan, pasien harus segera dirujuk ke sarana kesehatan yang lebih tinggi. Demam dapat memperburuk nyeri sendi, sehingga sebaiknya dihindari dalam fase akut. Aktivitas ringan dan fisioterapi direkomendasikan bagi pasien yang mengalami perbaikan klinis.

3. Sarana kesehatan sekunder

Harus diperiksa sampel darah untuk serologi IgM ELISA. Sebagai alternative dapat diperiksa IgG diikuti dengan pemeriksaan sampel kedua dengan jarak 2-4 minggu. Tanda gagal ginjal harus diperhatikan (jumlah urin, kreatinin, natrium dan kalium), fungsi hati (transaminase dan bilirubi), EKG, malaria (hapusan darah tepi) dan trombositopenia. Pemeriksaan cairan serebrospinal harus dilakukan bila dicurigai terdapat meningitis. Dapat digunakan sistem scoring CURB 65 untuk penentuan perlu tidaknya rujukan ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi.

4. Sarana kesehatan tersier

Harus diperiksa sampel darah untuk serologi/PCR/pemeriksaan genetic sesegera mungkin bila fasilitas tersedia. Pertimbangkan kemungkinan penyakit rematik lain seperti rematoid arthritis, gout, demam rematik pada kasus-kasus yang tidak biasa. Dapat diberikan terapi NSAID. Pada komplikasi serius berupa perdarahan transfusi trombosit pada perdarahan dengan trombosit kurang dari 50ribu, fresh frozen plasma atau injeksi vitamin K bila INR lebih dari dua. Hipotensi diatasi dengan cairan atau intropik gagal ginjal akut dengan dialysis, kontraktur dan deformitas dengan fisioterapi atau bedah dan manifestasi kulit dengan obat topical atau sistemik. Pasien dengan mioperikarditis atau meningoensefalitis mungkin membutuhkan perawatan intensif di ICU. Pada kasus atralgia yang refrakter terhadap obat lain dapat digunakan hidroksiklorokuin 200mg per oral sekali sehari atau klorokuifosfat 300mg per oral tiap hari selama 4 minggu. Perlu dinilai adakah kecacatan dan direncanakan prosedur rehabilitasi.

Tatalaksana Fase Kronik

1. Tatalaksana Masalah Osteoartikular

Masalah osteoartikular pada demam chikungunya biasanya membaik dalam satu sampai dua minggu. Pada kurang dari 10% kasus, masalah ini dapat berlangsung dalam beberapa bulan.

Tatalaksana manifestasi osteoartikular mengikuti guideline yang telah dibahas sebelumnya. Karena dapat terjadi proses imunologi pada kasus kronik dapat diberikan steroid jangka pendek. Walaupun NSAID meringankan gejala pada sebagian besar pasien harus diperhatikan juga efek samping pada ginjal, gastrointestinal, jantung, dan sumsum tulang. Kompres dingin dilaporkan dapat mengurangi keluhan sendi.

2. Tatalaksana Masalah Neurologis

Sekitar 40% pasien dengan demam chikungunya akan mengeluhkan berbagai gejala neurologi tetapi hanya 20% diantaranya mengalami manifestasi persisten. Keluhan paling umum adalah neuropati perifer dengan komponen sensoris dominan. Obat antineuralgi (amitriptilin, carbamazepin, gabapentin) dapat diberikan pada dosis standar untuk neuropati. Keterlibatan ocular selama fase akut pada kurang dari 0.5% kasus dapat menyebabkan penurunan visus dan nyeri mata. Penurunan visus karena uveitis atau retinitis dapat berespon terhadap steroid.

3. Tatalaksana Masalah Dermatologi

Manifestasi kulit demam chikungunya berkurang setelah fase akut terlewati. Namun apabila terjadi lesi psoriatic dan lesi atopic diperlukan tatalaksana spesifik. Hiperpigmentasi dan erupsi popular dapat diobati dengan krim zinc oxide. Jarang terjadi luka persisten.

4. Tatalaksana Masalah Psikosomatis

Masalah emosional dilaporkan terjadi pada 15% kasus.

Sumber:

Karmat S, Das AK. Chikungunya. JAPI: 2006; 54: 725-727.

WHO. Guidelines on Clinical Management on Chikungunya Fever. October 2008.

Widodo, Djoko. 2007. Diagnosis dan Penatalaksanaan Chikungunya. Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM.

Wilson Mary. Chikungunya on Three Continents. (Online). (http://infectious-diseases.jwatch. org/cgi/content/full/2008/227/2, diakses 26 Pebruari 2009).

Yulvi H. Rapid Detection of Chikungunya Virus by PCR. USU Repository 2006.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: