Merokok Meningkatkan Risiko Terjadinya Kelahiran BBLR

Oleh: dr. Yuliana

gambar-rokok

Kebiasaan merokok telah menjadi budaya di berbagai bangsa di dunia. Saat ini sekitar 1.1 miliar orang merokok di seluruh dunia. Pada tahun 2025, diperkirakan jumlah ini akan meningkat menjadi lebih dari 1.6 miliar. Indonesia sendiri menduduki peringkat keempat jumlah perokok terbanyak di dunia, yaitu sekitar 141 juta orang dengan sekitar 57 ribu perokok meninggal setiap tahun dan sekitar 500 ribu orang menderita berbagai penyakit akibat rokok. Penelitian di Jakarta menunjukkan bahwa 64,8 persen pria dan 9,8 persen wanita dengan usia di atas 13 tahun adalah perokok, sedangkan data World Health Organization (WHO) tahun 1995 menunjukkan bahwa 47 persen pria dan 12 persen wanita adalah perokok.

Di Indonesia, perokok relatif bebas mengisap rokok di mana saja. Kawasan bebas rokok di negeri ini masih amat minim, itu pun sangat mungkin dilanggar karena sanksinya bisa dikatakan tidak ada. Padahal, kalau seseorang merokok, itu berarti dia hanya mengisap asap rokoknya sekitar 15 persen saja, sementara yang 85 persen lainnya dilepaskannya untuk diisap para perokok pasif.

Asap rokok mengandung sekitar 4.000 zat kimia seperti karbon monoksida (CO), nitrogen oksida (NO), asam sianida (HCN), amonia (NH4OH), acrolein, acetilen, benzaldehyde, urethane, benzene, methanol, coumarin, etilkatehol-4, dan ortokresol. Selain komponen gas ada komponen padat atau partikel yang terdiri dari nikotin dan tar. Bahan-bahan di ataslah yang menyebabkan terjadinya berbagai macam kelainan dan penyakit. Beberapa penyakit dengan etiologi perokok, baik perokok aktif maupun perokok pasif, adalah penyakit jantung koroner, penyakit paru-paru kronis, tumor paru, impotensi, dan gangguan sistem reproduksi. Selain itu, salah satu bahaya merokok adalah gangguan kehamilan dan janin.

Penelitian yang dilakukan oleh BMA Tobacco Control Resource Centre menunjukkan bahwa ibu yang merokok selama kehamilan memiliki risiko melahirkan bayi berat lahir rendah (BBLR) sebesar 1,5-9,9 kali dibandingkan dengan berat badan lahir bayi dari ibu yang tidak merokok. Kondisi BBLR sangatlah merugikan. Bayi dengan kondisi BBLR sering disertai dengan komplikasi, antara lain: sindrom gangguan pernapasan idiopatik, pneumonia aspirasi, perdarahan intraventrikuler, hiperbilirubinemia, sindrom aspirasi mekonium, hipoglikemia simtomatik, dan asfiksia neonatorum. Bahkan, bayi dengan BBLR merupakan salah satu penyebab utama kematian perinatal. Angka kematian perinatal pada bayi BBLR lebih daripada 2 kali angka kematian bayi normal. Berikut penjelasan singkat mengenai mekanisme yang diduga mendasari terjadinya kelahiran bayi berat lahir rendah pada ibu yang terpapar asap rokok baik sebelum maupun selama kehamilannya.

Merokok selama hamil telah dilaporkan mempunyai efek yang merugikan terhadap ibu ataupun janin yang dikandung. Sebuah penelitian eksperimental menggunakan hewan coba mencit menyimpulkan bahwa paparan asap rokok yang diberikan selama masa kehamilan hari ke-0 (hari konsepsi), 1 dan 2 menyebabkan retardasi pertumbuhan embrio, sedangkan paparan asap rokok selama masa kehamilan hari ke-0 hingga hari ke-17 menyebabkan penurunan berat badan fetus. Dalam penelitian ini, mencit dipapar asap rokok selama 10 menit, 3 kali sehari.

Di bawah ini adalah diagram alur mekanisme efek paparan asap rokok terhadap risiko terjadinya kelahiran BBLR.

rokok2

Secara singkat dapat dijelaskan bahwa radikal bebas yang terkandung dalam asap rokok dapat menyebabkan kerusakan endotel, peningkatan vasokonstriktor, dan penurunan vasodilator. Nikotin sendiri yang juga terkandung dalam asap rokok dapat menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah. Semua hal tersebut dapat menyebabkan terjadinya hipertensi. Hipertensi dapat menyebabkan penurunan suplai makanan dan oksigen fetus. Radikal bebas juga dapat menyebabkan kerusakan jaringan paru sehingga dapat terjadi PPOK. PPOK akan menyebabkan penurunan oksigenasi fetus. Selain itu, radikal bebas juga dapat mengganggu metabolisme asam folat. Dengan adanya gangguan metabolisme asam folat berarti nutrisi pertumbuhan fetus akan terganggu dan juga akan mempengaruhi ekspresi gen fetus. Akibatnya secara tidak langsung, hipertensi, PPOK, dan defisiensi asam folat akan menimbulkan gangguan pertumbuhan fetus yang pada akhirnya akan dapat menyebabkan BBLR.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: