Polemik PUYER

oleh: dr. Yuliana

Polemic puyer sedang jadi bahan omongan.. Berbagai media massa bahkan forum dan milis di internet mulai ramai-ramai membahas mengenai kontroversi ini. Berhari-hari ibu menteri kesehatan kita nongol di layar kaca memberikan tanggapannya. Pengurus pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pun sudah mengeluarkan pendapat yang telah disetujui oleh Ketua Umum IDAI, Dr. Badriul Hegar, SpA (K) mengenai polemik ini.

Sebenarnya, apa yang dimaksud dengan puyer?0806037

Puyer atau pulvis adalah salah satu bentuk sediaan obat yang biasanya didapat dengan menghaluskan atau menghancurkan sediaan obat tablet atau kaplet yang biasanya terdiri atas sedikitnya dua macam obat.

Alasan dibuatnya puyer adalah:

  1. pasien tidak bisa menelan tablet/pil/kapsul. biasanya pada pasien anak/balita
  2. tidak ada dosis yang sesuai pada sediaan yang ada. misalnya butuh paracetamol 100mg, sementara sediaan yang ada di pasaran 250mg dan 500mg.
  3. polifarmasi : jika pasien anak-anak mendapat obat lebih dari 1 macam
  4. tidak ada sediaan bentuk lain yang sesuai. misalnya bentuk syrup nya tida ada
  5. ekonomis. puyer relatif lebih murah daripada syrup.

Dalam pengobatan modern barat, pada awalnya puyer merupakan salah satu bentuk sediaan yang luas digunakan di seluruh dunia, terutama untuk penggunaan obat racikan/campuran. Namun, dengan kemajuan teknologi, lambat laun sediaan puyer semakin jarang digunakan di seluruh dunia. Selain karena kemajuan teknologi yang menghasilkan berbagai bentuk sediaan obat baru yang lebih aman, mudah digunakan, dan nyaman bagi pasien, sediaan obat puyer dianggap bersifat kurang stabil. Dengan demikian, lebih mudah rusak, takaran kurang akurat, dan penggunaannya juga menimbulkan rasa kurang nyaman (pahit). FDA (Food and Drug Administration) sendiri sudah tidak merekomendasikan penggunaan puyer lengkapnya baca di (http://www.fda.gov/consumer/updates/compounding053107.html)

Penggunaan sediaan obat puyer dan sejenisnya di Indonesia sudah berlangsung lama sejak dahulu kala, jauh sebelum pengobatan modern hadir di sini. Jamu sebagai ramuan obat asli Indonesia sejak ratusan tahun lalu salah satu bentuk sediaannya adalah mirip puyer.

Sediaan obat puyer juga memiliki ”turunan”, yaitu sediaan obat kapsul dan obat sirup yang diracik/dikemas sendiri oleh dokter/apoteker dengan memasukkan puyer ke dalam cangkang kapsul atau mencampurkannya dengan sirup dan air. Biasanya bentuk yg dimasukkan kapsul lebih banyak digunakan pada anak yg besar juga digunakan pada pasien-pasien dewasa. Sebenarnya puyer ini hanya ada di negara berkembang bahkan ada yg bilang hanya ada di Indonesia

Mengingat polemik ini berkembang semakin meluas sehingga meresahkan masyarakat yang terhitung sebagai konsumen, maka sudah seharusnya hal ini menggugah perhatian pihak-pihak yang berwenang.

Pemerintah, tenaga medis, media massa, serta masyarakat sebagai konsumen..

Yang sebenarnya penting untuk ditekankan dalam pemberian obat adalah apakah pemberian obat itu RASIONAL? Baik dari segi pemilihan jenis obat, dosis obat, sediaan (bentuk) obat, adanya interaksi obat dll.

Pemerintah sudah saatnya membuat kebijakan atau pengaturan mengenai obat, terutama dalam hal ini bentuk obat. Dalam hal ini termasuk mempertimbangkan, apakah pemerintah sudah SIAP untuk menyediakan obat dalam bentuk lain, selain puyer, misalnya sirup yang beragam dengan harga terjangkau yang disertai alat ukur di seluruh pelayan kesehatan masyarakat?

Bila memang belum siap, maka hal yang bisa dilakukan pemerintah saat ini adalah mempertegas lagi dan memantau standar minimal prosedur, tempat, dan peralatan pembuatan sediaan puyer/turunannya di apotek atau praktik dokter sehingga kebersihan dan ketepatan takarannya memenuhi standar. Selain itu, pemerintah juga perlu mengatur ketetapan kewajiban pemberian label pada kemasan sediaan obat puyer/turunannya yang mencantumkan isi dan takaran obat yang terkandung, tanggal kedaluwarsa, cara penyimpanan, beserta nama dan alamat peraciknya.

Tenaga medis, khususnya dokter.

Dokter harus memahami benar jenis-jenis obat yang akan digunakan. Apakah obat dapat diberikan dalam bentuk puyer, apakah akan muncul interaksi obat antara yang satu dengan yang lainnya harus benar-benar dikuasai oleh dokter. Lebih baik lagi bila ikatan profesi dokter bisa menyusun suatu daftar mengenai obat-obat mana saja yang bisa dijadikan puyer, serta memberikan standar-standar minimal yang harus dipenuhi sebelum meresepkan atau meracik puyer.

Tenaga medis lain, misalnya apoteker.

Apoteker juga wajib mengetahui standar-standar minimal peracikan puyer, termasuk prosedur, tempat, dan peralatan yang digunakan.

Media massa sebagai sarana informasi masyarakat, harus dapat berperan secara bertanggung jawab untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman yang benar dan jelas kepada masyarakat supaya tidak menimbulkan keresahan yang semakin bertambah bagi masyarakat.

Masyarakat sebagai konsumen harus dapat bersikap lebih bijaksana, bertindak sebagai pasien yang bijak. Mematuhi seluruh aturan terapi dengan benar.

Di sisi lain, sebenarnya apa yang mendasari kontroversi ini muncul??

Seperti dikatakan ibu menteri kesehatan, standar operasional mana yang dikatakan tidak memperhatikan higienitas? Bukankah selama ini tidak pernah terdengar keluhan bahwa ada bayi atau anak mencret setelah mengkonsumsi puyer?

Tidak adanya komunikasi yang baik antara dokter dan pasien itulah yang justru meresahkan sehingga menyebabkan tidak adanya lagi kepercayaan pasien terhadap dokter. Dokter tidak menceritakan dengan jelas mengenai penyakit serta rencana pengobatan terhadap pasien dan keluarganya, pasien juga takut, malu atau malas bertanya. Hal inilah yang akan banyak menimbulkan kegagalan dalam pengobatan terhadap pasien.

Oleh karena itu, sambil menunggu adanya kebijakan lebih lanjut mengenai kontroversi ini, alangkah baiknya kita memperbaiki hubungan antara dokter dan pasien menjadi lebih baik.

One Response

  1. Bener kata temen-temen di milis, kalau saja kita bisa bikin sirup ‘ponari’ mungkin akan lebih cepat meyakinkan dan membuat kita kaya.. daripada susah-susah menghitung dosis, mempertimbangkan interaksi obat.. PUYER memang ribet.. tapi masyarakat Indonesia lebih ribet lagi hehe..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: