BERENANG, Baik atau Buruk Bagi Penderita Asma?

Oleh: dr. Yuliana

swimming-pool1Berenang, dalam beberapa waktu terakhir ini direkomendasikan menjadi salah satu olahraga terbaik bagi penderita asma. Dibandingkan olahraga lain, berenang dinilai lebih sedikit mencetuskan asma. Selain itu berenang akan membantu bernafas lebih dalam dan lebih teratur yang akan meningkatkan kapasitas paru dan melatih paru untuk membentuk pola pernapasan yang kuat.

Akan tetapi…

Beberapa tahun yang lalu, yaitu pada saat berlangsung Olympic games di Sidney, Australia, tim renang asal Amerika Serikat mengumumkan sesuatu yang sangat mengejutkan. Lebih dari seperempat anggota tim renangnya menderita asma dengan derajat yang bervariasi!! Padahal sebelumnya mereka berada dalam kondisi yang sehat, dengan kata lain tanpa memiliki riwayat asma.

Penelitian sebelumnya memang telah menyatakan bahwa kandungan zat-zat dalam air kolam renang, yaitu chloramin dan Trihalomethanes (THMs) dapat berperan sebagai pencetus timbulnya serangan asma. Namun studi yang dilakukan oleh pakar kesehatan Amerika ini telah membuktikan bahwa zat-zat berbahaya tersebut juga dapat mengakibatkan timbulnya asma pada seseorang yang sebelumnya sehat.

Berenang sebagai pencetus serangan asma pada individu dengan riwayat asma maupun individu sehat..

Berdasarkan European Respiratory Journal 2008, disebutkan bahwa anak-anak yang berenang di outdoor pool rata-rata 1 jam per minggu selama 10 tahun, atau total lebih dari 500 jam memiliki risiko didapatkannya kondisi wheezing lima kali lipat dibandingkan dengan anak-anak yang tidak pernah berenang di outdoor pool. Sedangkan pada anak-anak yang sebelumnya didapatkan riwayat asma, risiko ini meningkat menjadi sepuluh kali lipat.

Kolam renang biasanya menggunakan chlorine sebagai disinfektan, namun sayangnya seringkali penggunaan chlorine ini kadarnya terlalu tinggi (konsentrasi chlorine yang direkomendasikan utnuk kolam renang 1-3ppm) sehingga dapat membahayakan saluran pernapasan. Sebenarnya masalahnya bukan pada chlorine, tetapi masalah ini muncul ketika chlorine yang dalam konsentrasi tinggi ini bercampur dengan substansi organik. Substansi organik ini berasal dari partikel, folikel rambut, water borne bacteria, bahkan dari keringat dan urine. Apabila chlorine bercampur dengan substansi organik ini maka akan terbentuk nitrogen trichloride, aldehydes, halogenated hydrocarbon, chloroform, trihalomethanes, dan chloramines. Zat-zat berbahaya yang terbentuk inilah yang dianggap sebagai pencetus meningkatnya kadar pneumoprotein, yaitu surfaktan A (SF-A), surfaktan B (SF-B), dan Clara cell protein 16 (CC 16). Surfaktan A dan B merupakan struktur lipid-protein yang meningkatkan aktivitas biofisikal dari paru dalam mengurangi tegangan permukaan pada epitel paru dan mencegah kolaps dari alveoli pada akhir ekspirasi. Segala hal yang mempengaruhi fungsi dari surfaktan ini akan menyebabkan gangguan fungsi dari paru karena menyebabkan epitel lebih permeabel. Pada sebuah penelitian yang dilakukan terhadap anak-anak yang terekspos udara di sekitar kolam renang rata-rata 1,8 jam per minggu, didapatkan peningkatan kadar tiga protein ini sesuai dengan frekuensi seringnya terekspos. Terutama untuk protein SF-B, didapatkan variasi peningkatan sebesar 11,6%, bahkan angka ini setara dengan yang didapatkan pada perokok berat.

Absorbsi zat-zat ini terbesar terjadi melalui kulit. Tetapi, kadar yang masuk melalui inhalasi sudah cukup untuk dapat menimbulkan hipersensitivitas dan serangan asma. Dengan demikian, pada perenang zat-zat berbahaya ini akan lebih berpotensi untuk masuk ke dalam tubuh, karena bisa melalui kulit, inhalasi, maupun melalui air yang tertelan. Bahkan menurut penelitian dari Imperial College of Science and Technology di London, uptake dari zat-zat berbahaya ini meningkat 141 kali lipat pada orang yang berenang selama 1 jam.

Anak-anak lebih berisiko..

Anak-anak lebih banyak menghirup udara per unit berat badannya dibanding dengan orang dewasa. Dengan artian, anak-anak mengabsorbsi zat-zat beracun ini dalam jumlah yang relatif lebih besar dibandingkan dengan orang dewasa, sehingga risiko yang ditimbulkan pun lebih besar.

Meskipun demikian, berenang tetap direkomendasikan sebagai salah satu bentuk olahraga yang terbaik pada anak-anak yang menderita asma. Berikut ini adalah tips-tips yang bisa dilakukan sebelum memutuskan untuk berenang:

- Sight: lihatlah airnya, apakah bersih, jernih, dan kebiruan

- Touch: periksa apakah lantainya licin dan bersih

- Smell: pastikan bahwa tidak didapatkan bau “chlorine” yang menyengat

- Sound: dengarkan apakah terdapat suara alat-alat pembersih kolam

- Taste: jangan pernah meminum atau menelan air kolam

- Common sense: gunakan peralatan untuk melindungi diri sendiri dan orang lain.

Selain itu perlu ditanyakan pada operator kolam renang, apakah dilakukan pemeriksaan rutin kadar polutan dalam air, apakah terdapat ventilasi dan penerapan hygiene yang baik, dan seberapa sering air kolam renang diganti.

Referensi:

1. Anaruk, Amy. 2008. Is Swimming Good or Bad For Astma?. (Online) (http://www.bellaonline.com/articles/art35976.asp, diakses tanggal 18 Oktober 2008).

2. Thickett, K, Dr. 2007. The Connection Between Chlorine and Asthma. (Online). (http://watercarenaturally.co.nz/research, diakses tanggal 18 Oktober 2008).

3. Smith, Rebecca. 2008. Swimming in Chlorinated Pools ‘Increases Asthma Risk Five-Fold’. (Online). (http://www.telegraph.co.uk/news/newstopics/politics/health/3073002/Swimming-in-chlorinated-pools-increases-asthma-risk-five-fold.html, diakses tanggal 17 Oktober 2008).

4. Mcmilker. 2008. Swimming Pools, Chlorine and Asthma – What’s The Connection?. (Online). (http://ecochildsplay.com/2008/05/28/swimming-pools-chlorine-and-asthma-whats-the-connection, diakses tanggal 17 Oktober 2008).

5. Johnston, Cameron. 2008. Greener Swimming Pools: Reducing Chlorine. (Online). (http://www.plentymag.com/events/2008/07/reduced_chlorine_in_the_swimmi.php, diakses tanggal 18 Oktober 2008).

6. BBC NEWS. 2002. Fears Over Swimming Pool Chemical. (Online). (http://news.bbc.co.uk/1/hi/health/1909268.stm, diakses tanggal 18 Oktober 2008).

7. Anonimous. Chlorine Toxicity: What Is Known?. (Online). (http://www.enviroswim. com/au/research/chlorination/index.htm, diakses tanggal 18 Oktober 2008).

8. Geimer, Peggy Nilsson, MD, FACOEM. 2008. Be Aware, Be Healthy: What You Need To Know About Swimming In Chlorinated Pools. (Online). (http://www.medicalnewstoday. com/articles/123713.php, diakses tanggal 18 Oktober 2008).

9. Naidenko, Olga, Ph.D. 2008. To Swim or Not To Swim: Childhood Asthma and Indoor Swimming Pools. (Online). (http://www.enviroblog.org/2008/10/to-swim-or-not-to-swim-childho.htm, diakses tanggal 17 Oktober 2008).

About these ads

2 Responses

  1. jadi sebaiknya bgmna dok, apakah anak yg punya bakat astma sebaiknya berenang di kolam yg tdk mengandung chlorine? di kota kami (malang) masih ada kolam renang seperti itu. air diganti dg yg baru seminggu sekali. tapi memang tidak kelihatan ‘wah’, tdk biru airnya

  2. Berenang tetap merupakan salah satu olahraga yang direkomendasikan untuk penderita asma karena akan membantu bernafas lebih dalam dan lebih teratur yang akan meningkatkan kapasitas paru dan melatih paru untuk membentuk pola pernapasan yang kuat. Apalagi apabila syarat dan ketentuan kolam renang dipatuhi. Bersyukur sekali apabila di daerah anda bisa didapatkan kolam renang yang “sehat” yang memenuhi ketentuan2, misalnya kadar klorin yang masih dalam batas yang dianjurkan. Saran saya, anak anda yang mempunyai bakat asma dapat tetap berenang dengan tenang, tentunya dengan pengawasan dari orang tua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: