Mengenal Cacar Air

Oleh: dr. Yuliana

(diterbitkan oleh Malang Pos, 9 Juni 2009)

Cacar Air (Varicella, Chickenpox), yang dikenal orang Jawa sebagai “cangkrangen”, adalah salah satu penyakit yang umum ditemui pada anak-anak. 90% kasus cacar air terjadi pada anak di bawah sepuluh tahun, dengan kejadian tertinggi pada usia 2-6 tahun. Penyakit ini disebabkan karena infeksi virus Varicella Zoster (VZV). Virus ini bisa ditularkan melalui percikan ludah penderita atau melalui kontak langsung dengan cairan kulit yang melepuh atau benda-benda yang terkontaminasi oleh cairan tersebut, misalnya seprai, selimut, dan handuk. Penderita bisa menularkan penyakitnya mulai dari saat timbulnya gejala sampai kulit yang melepuh telah mengering. Karena itu, untuk mencegah penularan, sebaiknya penderita diisolasi (diasingkan) selama masa itu. Apabila luka telah berubah menjadi keropeng (krusta), maka pasien tidak lagi menularkan penyakit.

Gejala yang ditimbulkan penyakit cacar air ini umumnya lebih ringan pada anak kecil dibandingkan dengan anak yang lebih besar atau orang dewasa. Gejala mulai timbul dalam waktu 10-21 hari setelah terinfeksi. Ditandai dengan demam ringan, sakit kepala, rasa tidak enak badan, lemas, nyeri tenggorokan, atau pembesaran kelenjar getah bening di leher bagian belakang. 24-36 jam kemudian muncul bintik-bintik merah datar (makula) yang dimulai dari badan kemudian menyebar ke wajah, lengan dan tungkai. Kemudian bintik tersebut menonjol (papula), membentuk lepuhan berisi cairan (vesikel) yang terasa gatal, yang akhirnya akan mengering. Ruam ini muncul secara bertahap selama 3-4 hari sehingga pada puncak masa sakit dapat ditemui ruam dalam semua tahapannya (bintik-bintik, benjolan berisi cairan, dan ruam yang mengering). Selain di kulit, ruam juga dapat muncul di selaput lendir (mukosa), misalnya bagian dalam mulut atau vagina. Umumnya ruam membutuhkan sekitar 7 – 14 hari untuk sembuh.

Papula di mulut cepat pecah dan membentuk luka terbuka (ulkus), yang seringkali menyebabkan gangguan menelan. Ulkus juga bisa ditemukan di kelopak mata, saluran pernafasan bagian atas, rektum dan vagina. Papula pada pita suara dan saluran pernafasan atas kadang menyebabkan gangguan pernafasan. Untuk menegakkan diagnosa penyakit ini, biasanya cukup dengan riwayat penyakit dan pemeriksaan klinis, tanpa perlu pemeriksaan tambahan.

Penyakit ini biasanya dapat sembuh sempurna tanpa masalah yang berarti. Tetapi pada beberapa kasus, yaitu umumnya pada orang dewasa atau anak-anak dengan gangguan sistem kekebalan, infeksi ini bisa berat atau bahkan berakibat fatal. Komplikasi yang muncul bisa berupa radang paru-paru karena virus, peradangan jantung, peradangan hati, infeksi bakteri (erisipelas, pioderma, impetigo bulosa), maupun infeksi otak (ensefalitis). Luka cacar air ini jarang menyebabkan pembentukan jaringan parut, kalaupun ada, hanya berupa lekukan kecil di sekitar mata. Luka cacar air bisa terinfeksi akibat garukan dan biasanya disebabkan oleh bakteri staphylococcus.

Karena penyebabnya virus, maka penyakit ini dapat sembuh dengan sendirinya dan setelah itu anak akan memiliki kekebalan dan tidak akan menderita cacar air lagi. Pengobatan yang diberikan umumnya hanya untuk meringankan gejala yang timbul. Pasien dianjurkan untuk istirahat (tirah baring) secukupnya, untuk menurunkan demam, sebaiknya digunakan asetaminofen, jangan aspirin. Sedangkan untuk mengurangi rasa gatal dan mencegah penggarukan, sebaiknya kulit dikompres dingin. Bisa juga diberikan bedak salisilat, diioleskan losyen kalamin, antihistamin atau losyen lainnya yang mengandung mentol atau fenol. Yang penting dilakukan adalah menjaga agar jangan sampai luka ini terinfeksi bakteri, yaitu dengan selalu menjaga kebersihan. Kulit dicuci sesering mungkin dengan air dan sabun, anak boleh dimandikan bila tidak ada demam. Kebersihan tangan selalu dijaga, kuku dipotong pendek, pakaian tetap kering dan bersih.

Pemberian terapi antivirus masih kontroversial. Antivirus hanya dianjurkan diberikan pada penderita cacar air dengan komplikasi yang berat, cacar air pada bayi di bawah usia 28 hari atau orang dewasa, maupun cacar air pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang rendah. Pemberian antivirus ini harus dilakukan dalam jangka waktu 48 jam setelah ruam pertama kali muncul. Antivirus yang bisa diberikan yaitu asiklovir dengan dosis 20mg/kgbb/kali dalam 4 dosis selama 5 hari. Sedangkan antibiotik hanya diberikan jika ada infeksi kulit oleh bakteri.

Pencegahan untuk cacar air bisa dilakukan dengan pemberian imuniasi. Mengingat kejadian cacar air di Indonesia terbanyak terjadi pada anak yang telah bergaul dengan anak seumurnya (awal sekolah) dan penularan terbanyak terjadi pada saat usia sekolah, maka imunisasi aktif dianjurkan diberikan mulai usia masuk sekolah, yaitu 5 tahun. Atas pertimbangan tertentu, imunisasi ini dapat diberikan setelah usia ≥ 1 tahun. Pada keadaan terjadi kontak dengan pasien cacar air, pencegahan vaksin dapat diberikan dalam waktu 72 jam setelah penularan.

Infeksi Saluran Kemih pada Anak

oleh: dr. Yuliana

(diterbitkan oleh Malang Pos, 17 Mei 2009)

Infeksi saluran kemih ternyata tidak hanya diderita oleh orang dewasa, anak-anakpun bisa terkena. Bahkan infeksi saluran kemih ini merupakan penyebab demam kedua tersering setelah infeksi akut saluran napas pada anak berusia kurang dari 2 tahun. Pada bayi berusia kurang dari 3 bulan, infeksi ini lebih banyak didapatkan pada laki-laki, tetapi pada usia lebih dari 3 bulan kejadian infeksi saluran kemih ini jauh lebih banyak pada anak perempuan.

Infeksi saluran kemih diartikan sebagai adanya pertumbuhan bakteri di dalam saluran kemih yang mencapai ≥ 100.000 unit koloni per ml urin segar yang diambil pagi hari. Infeksi ini dapat meliputi infeksi di jaringan ginjal, kandung kemih, sampai saluran kemih. Apabila tidak diobati dengan cepat dan tepat, maka infeksi ini dapat mengakibatkan komplikasi yang lebih serius, misalnya kerusakan ginjal yang menetap sampai terjadi gagal ginjal.

Pada orang dewasa maupun anak yang lebih besar yang terinfeksi seringkali akan memberikan keluhan yang mudah dikenali, misalnya nyeri saat kencing, sering kencing, bau kencing yang menyengat, nyeri pinggang/perut bagian bawah. Lain halnya, bila infeksi ini diderita pada bayi atau anak yang lebih kecil, seringkali gejala yang muncul tidak khas. Hal inilah yang akhirnya menyebabkan orang tua bahkan tenaga medis terlambat mendeteksi sehingga berakibat pengobatan yang diberikan tidak tepat. Jika demikian, bagaimana kita dapat mengenali seorang bayi atau anak yang menderita infeksi saluran kemih?

Apabila seorang bayi atau anak menderita demam, rewel, muntah, mencret, tidak mau minum atau makan, sampai berat badan tidak naik dan gagal tumbuh, maka sudah seharusnya kita curiga bahwa mungkin ia terkena infeksi saluran kemih, dan harus dibawa ke dokter. Pada pemeriksaan fisik, dokter biasanya akan mendapatkan adanya demam, nyeri ketok pada daerah pinggang belakang, nyeri tekan pada perut bagian tengah bawah, atau mungkin juga didapatkan kelainan pada kemaluan, atau kelainan pada tulang belakang seperti spina bifida. Kemudian sebagai pemeriksaan tambahan, dokter biasanya akan menyarankan dilakukan pemeriksaan urin (kencing) untuk memastikan ada atau tidaknya infeksi. Diagnosis pasti infeksi saluran kemih ditegakkan dengan ditemukannya bakteriuria (bakteri dalam urin) pada pembiakan (kultur) urin, yang jumlahnya tergantung dari metoda pengambilan sampel. Akan tetapi, pengambilan sampel urin pada anak yang lebih kecil dan bayi kadang mengalami kesulitan. Pemeriksaan penunjang lain dapat dilakukan untuk mencari faktor risiko terjadinya infeksi saluran kemih, misalnya dengan pemeriksaan ultrasonografi, foto polos perut, dan pemeriksaan radiologi lainnya. Pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin serum (darah) dilakukan untuk menilai fungsi ginjal.

Penyebab terbanyak infeksi saluran kemih pada anak adalah bakteri Escherichia coli. Oleh karena itu penanganan yang diberikan adalah dengan pemberian antibiotik selama 7-10 hari untuk menghilangkan kuman penyebab. Selain itu juga diberikan asupan cairan yang cukup dan dilakukan perawatan kebersihan daerah sekitar saluran kencing. Sedangkan tindakan bedah sesuai dengan kelainan saluran kemih yang ditemukan.

Infeksi saluran kemih sering berulang pada anak-anak, oleh karena itu pencegahan penting untuk dilakukan. Pencegahan dapat dilakukan dengan minum air dalam jumlah yang cukup, tidak menahan kencing, selalu menjaga kebersihan, terutama sekitar saluran kemih, mengganti celana dalam secara teratur dan apabila mengalami sulit buang air besar harus segera ditangani. Sirkumsisi (sunat) dinilai juga dapat mengurangi terjadinya infeksi saluran kemih. Pada beberapa kasus misalnya anak dengan kelainan ginjal, kelainan anatomik atau fungsional yang menyebabkan sumbatan saluran kemih, antibiotik pencegahan diperlukan.

 

INISIASI MENYUSUI DINI

Inisiasi Menyusui Dini plus ASI Eksklusif Sebagai Langkah Awal Keberhasilan Menyusui…

Dr. Utami Roesli, SpA., IBCLC., FABM., ketua Sentra Laktasi Indonesia (Indonesian Breastfeeding Centre), dalam materi mengenai inisiasi menyusui dini yang dibawakannya pada simposium laktasi yang diadakan di Solo, Mei 2009 yang lalu menegaskan bahwa dengan mulai menyusu sendiri segera setelah lahir, atau kontak kulit setidaknya 1 jam setelah lahir, 22% kematian bayi dapat diselamatkan.

aBerdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Dr.Lennart Righard, Ms Margaret Alade, bayi lahir normal yang diletakkan di perut ibu segera setelah lahir dengan kulit ibu melekat pada kulit bayi selama setidaknya 1jam, maka dalam usia 20 menit bayi akan merangkak kearah payudara, dan usia 50 menit bayi akan mulai menyusu. Bayi lahir normal yang dipisahkan dari ibunya segera setelah lahir, 50% tidak akan bisa menyusu sendiri. Sedangkan bayi lahir dengan tindakan/obat-obatan dan dipisahkan dari ibu, 100% tidak akan bisa menyusu sendiri. Oleh karena itu dalam 10 langkah keberhasilan menyusui, langkah ke 4 nya adalah bantu ibu menyusui sedini mungkin dalam waktu setengah jam.

Berikut adalah TATALAKSANA INISIASI MENYUSU DINI (WABA2007 Leaflet UNICEF IMD 2007):

  1. Dianjurkan SUAMI atau keluarga MENDAMPINGI ibu saat melahirkan (ABM protocol#5 2003, UNICEF dan WHO: BFHI Revised,2006).
  2. Dalam menolong ibu saat melahirkan, disarankan untuk tidak atau mengurangi mempergunakan obat kimiawi (Dimkin & O’Ohara; AmericanJournalof ObstreticandGynocology 2002).
  3. DIKERINGKAN secepatnya terutama kepalanya, KECUALI TANGANNYA , tanpa menghilangkan lemak putih (vernix) (UNICEF dan WHO: BFHI Revised, d 2006 and UNICEF India 2007). Mulut dan hidung dibersihkan,tali pusat diikat.
  4. Bila tak memerlukan resusitasi, bayi DITENGKURAPKAN di dada-perut ibu dengan KULIT bayi MELEKAT pada KULIT ibu. Keduanya diselimuti. Bayi dapat diberi topi.
  5. Anjurkan ibu menyentuh bayi untuk merangsang bayi mendekati puting. Biarkan bayi mencari puting sendiri (WABA 2008).
  6. Ibu didukung dan bilaperlu dibantu mengenali perilaku bayi sebelum menyusu.
  7. Biarkan KULIT Bayi bersentuhan dengan kulit ibu selama PALING TIDAK SATU JAM atau lebih sampai proses menyusu awal selesai (UNICEF dan WHO: BFHI Revised, 2006 and UNICEF India : 2007, ( Klausand Kennel 2001; American College of OBGYN 2007 and ABM protocol #5 2003).
  8. Bila dlm 1 jam menyusu awal belum terjadi, DEKATKAN BAYI KE PUTING tapi jangan memasukkan puting ke mulut bayi. BERI WAKTU 30 menit atau 1 jam lagi (WABA 2007).
  9. Setelah KONTAK KULIT IBU-BAYI SETIDAKNYA 1JAM, atau lebih, bayi baru dipisahkan untuk ditimbang, diukur, diberi vit K dan dicap/tanda.
  10. RAWAT GABUNG BAYI: Ibu– bayi dirawat dalam satu kamar, dalam jangkauan ibu selama 24 jam. (American College of OBGYN 2007 and ABM protocol #5 2003) Berikan ASI saja tanpa minuman atau makanan lain kecuali atas indikasi medis. Tidak diberi dot atau empeng.

10 Langkah Keberhasilan Menyusui

  1. Sarana Pelayanan Kesehatan (SPK) mempunyai kebijakan Peningkatan Pemberian Air Susu Ibu (PP-ASI) tertulis yang secara rutindikomunikasikan kepada semua petugas.
  2. Melakukan pelatihan bagi petugas dalam hal pengetahuan dan ketrampilan untuk menerapkan kebijakan tersebut.
  3. Menjelaskan kepada semua ibu hamil tentang manfaat menyusui dan penatalaksanaannya
    dimulai sejak masa kehamilan, masa bayi lahir sampai umur 2 tahun, termasuk cara mengatasi kesulitan menyusui.
  4. Membantu ibu mulai menyusui bayinya dalam 30 menit setelah melahirkan , yang dilakukan di  ruang bersalin. Apabila ibu mendapat operasi Caesar, bayi disusui setelah 30 menit ibu sadar.
  5. Membantu ibu bagaimana cara menyusui yang benar, dan cara mempertahankan menyusui meski ibu dipisah dari bayi atas indikasi medis.
  6. Tidak memberikan makanan atau minuman apapun selain ASI kepada bayi baru lahir.
  7. Melaksanakan rawat gabung dengan mengupayakan ibu bersama bayi 24 jam sehari.
  8. Membantu ibu menyusui semua bayi semau bayi, tanpa pembatasan terhadap lama dan
    frekuensi menyusui.
  9. Tidak memberikan dot atau kempeng kepada bayi yang diberi ASI.
  10. Mengupayakan terbentuknya Kelompok Pendukung ASI (KP-ASI) dan rujuk ibu kepada kelompok tersebut ketika pulang dari Rumah Sakit/ Rumah Bersalin/ Sarana Pelayanan Kesehatan.

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN

NOMOR : 450/Menkes/SK/IV/2004

TANGGAL : 07 APRIL 2004
Dr. ACHMAD SUJUDI

 

by: SELASI

Retinopathy of Prematurity

oleh: dr. Yuliana

Membahas kasus yang dialami si kembar, Jared dan Jayden, putra dari Ibu Juliana yang mengalami gangguan penglihatan bahkan salah satunya mengalami kebutaan total pada kedua matanya, sungguh mengundang pertanyaan di benak kita. Apa sih sebenarnya retinopathy of prematurity yang disebut-sebut sebagai penyebab hilangnya penglihatan yang normal pada kedua bocah kembar tersebut? Berikut akan dibahas secara singkat mengenai retinopathy of prematurity (ROP) atau yang sering juga dikenal retrolental fibroplasia (RLF).

Retinopathy of prematurity (ROP) adalah kelainan pada mata yang terjadi pada bayi-bayi prematur. Kelainan ini disebabkan5 karena adanya pertumbuhan pembuluh darah retina abnormal yang dapat menyebabkan perlukaan atau lepasnya retina. ROP dapat berlangsung ringan dan membaik dengan sendirinya, tetapi bisa juga menjadi serius dan mengakibatkan kebutaan. Semua bayi dengan berat lahir kurang dari 1500 gram atau usia kehamilan kurang dari 32 minggu berisiko mengalami ROP, tetapi pada bayi-bayi dengan berat lahir semakin kecil dan semakin muda maka risiko terjadinya ROP semakin meningkat. Pemberian oksigen tambahan pada bayi prematur merupakan salah satu faktor risiko yang menyebabkan memberatnya ROP, tetapi bukan merupakan faktor utama terjadinya ROP. Pembatasan pemberian oksigen tambahan pada bayi prematur tidak secara langsung akan menurunkan kejadian ROP, malah akan meningkatkan komplikasi sistemik lain akibat kondisi kekurangan oksigen (hipoksia).

ROP terjadi pada 50% bayi prematur dengan berat lahir kurang dari 1250 gram dan 10%nya berkembang menjadi ROP stadium 3 sedangkan 90%nya berlangsung ringan dan tidak memerlukan pengobatan.

Pada bayi yang lahir dengan usia kehamilan 23-28 minggu, pemeriksaan mata pertama harus dilakukan pada usia 4-5 minggu. Sedangkan pada bayi yang lahir dengan usia kehamilan di atas 29 minggu, pemeriksaan dilakukan sebelum keluar dari rumah sakit. Bayi dengan ROP berisiko besar terjadi strabismus (juling), g laukoma, katarak, dan kelainan refraksi (rabun jauh), sampai buta. Oleh karena itu harus dilakukan pemeriksaan berkala setiap tahun untuk mencegah dan mengatasi kondisi-kondisi tersebut.

7Pemeriksaan mata bayi dilakukan dengan menggunakan oftalmoskop indirek. Klasifikasi ROP ditetapkan berdasar kan International Classification of Retinopathy of Prematurity (ICROP). Sistem ini menggunakan beberapa parameter untuk mendeskripsikan ROP, yaitu lokasi dari penyakit (zona 1,2 dan 3), perluasan melingkar dari penyakit (jam 1-12), keparahan penyakit (stadium 1-5), serta ada tidaknya “plus disease”.

ropZona Retina

Zona 1 daerah posterior retina

Zona 2 annulus dengan batas dalam zona 1 dan batas luar jarak dari nervus optikus ke nasal ora serrata

Zona 3 residual temporal crescent of the retina.

Stadium

Stadium 1 garis batas kabur

Stadium 2 elevated ridge

Stadium 3 extraretinal fibrovascular tissue

Stadium 4 sub-total retinal detachment

Stadium 5 total retinal detachment

Plus disease” dapat muncul pada stadium manapun. Menunjukkan tingkat yang signifikan dari dilatasi vaskular dan tortuosity yang ada di pembuluh darah retina belakang. Hal ini menggambarkan adanya peningkatan aliran darah yang melewati retina.

Terapi ROP yang dianjurkan adalah laser. Selain laser, ada juga cryotherapy, akan tetapi cryotherapy tidak lagi rutin digunakan pada ablasio retina bayi prematur, karena berefek samping inflamasi dan lid swelling. Scleral buckling dan/atau bedah vitrectomy dapat dipertimbangkan pada ROP berat (stadium 4-5).

Sumber:

Anonim1. 2007. Retinopathy of Prematurity. (Online). (http://biosingularity.files.wordpress.com/ 2007/07/4330_web.jpg, diakses tanggal 22 Juni 2009).

Anonim2. 2009. Retinopathy of Prematurity. (Online). (http://www.gruiasfightforsight.com/ img/photo.jpg, diakses tanggal 22 Juni 2009).

Bashour, Mounir. 2008. Retinopathy of Prematurity. (Online). (http://emedicine.medscape.com/ article/1225022-overview, diakses tanggal 22 Juni 2009).

National Institute of Eye. 2009. Retinopathy of Prematurity. (Online). (http://www.nei.nih.gov/ health/rop, diakses tanggal 22 Juni 2009).

Wikipedia. 2009. Retinopathy of Prematurity. (Online). (http://en.wikipedia.org/wiki/ Retinopathy_of_prematurity, diakses tanggal 22 Juni 2009).

Follow Up Bayi Prematur

oleh: dr. Yuliana

8Kelahiran prematur tidak hanya berdampak buruk pada saat lahir, tapi juga berefek jangka panjang pada bayi. Bayi prematur menurut WHO diartikan sebagai bayi yang lahir dengan usia kehamilan kurang dari 37 minggu, dihitung dari hari pertama haid terakhir (HPHT) ibu. Pada saat lahir atau beberapa saat setelah lahir, bayi-bayi prematur ini berisiko lebih besar mengalami infeksi, hipotermia, hipoglikemia, gangguan napas (respiratory distress syndrome), kuning (neonatal jaundice) sampai kernicterus atau penurunan kesadaran akibat tingginya kadar bilirubin indirek dalam darah bayi. Bayi-bayi prematur ini juga berisiko mengalami perdarahan otak intraventrikular yang bisa menimbulkan dampak jangka panjang yang serius.

Dampak jangka panjang lainnya antara lain risiko tinggi terjadinya gangguan pertumbuhan, perkembangan, pendengaran dan pengllihatan yang terjadi pada 10-15% bayi-bayi prematur. Oleh karena itu diperlukan follow up yang intensif dan rutin.

Pertumbuhan

Selama dua tahun pertama kehidupan, pertumbuhan dicatat menggunakan umur koreksi untuk prematuritas.

Umur koreksi = umur kronologis – prematuritas

Grafik pertumbuhan untuk bayi prematur rata-rata telah didisain khusus. Setelah bayi mencapai usia 2 tahun, grafik pertumbuhan standar dapat digunakan. Tumbuh kejar (catch-up growth) pada bayi prematur biasanya terjadi selama 2-3 tahun pertama dan maksimum pada saat usia 36-40 minggu setelah pembuahan. Sedikit terjadi setelah usia 3 tahun. Biasanya pertama kali terlihat pada lingkar kepala bayi, diikuti dengan berat dan panjang badan. Bayi prematur dengan retardasi pertumbuhan dalam rahim (IUGR) dan tanpa catch-up growth mempunyai risiko mengalami keterlambatan perkembangan serta kelainan medis yang lebih besar dibandingkan dengan bayi prematur dengan laju pertumbuhan normal. Bahkan saat remaja, anak-anak yang lahir prematur lebih kecil dibandingkan anak yang tidak lahir prematur. Menarche (menstruasi pertama kali) juga terjadi lebih lambat pada anak yang lahir prematur. Suatu penelitian menunjukkan bahwa perempuan yang lahir prematur cenderung melahirkan bayi prematur pula.

Jadwal follow up dilakukan tergantung kondisi medis. Pada usia koreksi kurang dari 40 minggu, follow up dilakukan setiap 2 minggu, setelah bayi mencapai usia aterm (40 minggu), follow up dilakukan tiap bulan. Yang dinilai adalah berat badan, panjang badan, dan lingkar kepala.

Perkembangan

Perkembangan bayi selama 2 tahun pertama ini harus di-plot dari perkiraan tanggal lahir bayi yang seharusnya bukan dari tanggal lahir bayi. Kuesioner praskrining perkembangan Denver, DDST, dan The Gesell Screening Inventory merupakan uji yang sudah diakui. Skrining perkembangan tidak menggantikan pemeriksaan saraf. Neonatal Neurodevelopmental Examination perlu dilakukan untuk menilai refleks dan kekuatan otot, saraf otak dan fungsi motorik, respons sensorik dan perilaku.

Penglihatan2

Strabismus (juling) lebih sering didapatkan pada bayi prematur dibanding dengan bayi aterm. Karena juling dapat menjadi tanda kelainan pada mata, diperlukan konsultasi dengan dokter bila dijumpai juling pada bayi. Pada banyak bayi berat lahir sangat rendah, juling pada usia enam minggu akan menghilang saat mencapai usia 9 bulan sedangkan juling yang timbul saat usia 9 bulan cenderung menetap. The American Academy of Pediatrics, the American Association for Pediatric Ophthalmology and Strabismus, dan the American Academy of Ophthalmology menganjurkan dilakukannya pemeriksaan skrining awal pada usia 4-6 minggu, dengan follow-up tergantung hasil pemeriksaan awal.

Pendengaran

WHO mendefinisikan tuli sebagai hilangnya pendengaran rata-rata lebih dari 25 dB pada frekuensi 500, 1.000 dan 2.000 Hz. Berdasarkan definisi tersebut, sekitar 5% bayi prematur yang lahir sebelum usia kehamilan 32 minggu mengalami ketulian pada usia 5 tahun. Para orang tua harus memperhatikan adanya tanda-tanda gangguan pendengaran pada bayi. Respons bayi terhadap suara keras dapat diperiksa oleh dokter dan kemampuan mengerti dan mengekspresikan bahasa dapat dinilai dengan alat skrining perkembangan. Konsultasi dengan ahli THT dapat dilakukan jika orang tua melihat tanda-tanda hilangnya pendengaran atau jika ditemukan kelainan saat skrining.

Beberapa kondisi seperti hiponatremia (kadar natrium dalam darah yang rendah), alkalosis metabolik dan penggunaan ventilator mekanik dalam jangka waktu lama yang merupakan faktor resiko terjadinya ketulian. Faktor resiko lainnya antara lain penggunaan obat golongan aminoglikosida atau furosemide.

SUMBER:

Trachtenbarg, David E, Golemon, Thomas B. 1998. Care of the Premature Infant: Part I.

Monitoring Growth and Development. (Online). (http://www.aafp.org/afp/980501ap/trachten.html, diakses tanggal 22 Juni 2009).

Patient UK. 2008. Premature Babies and Their Problems. (Online). (http://www.patient.co.uk/ showdoc/40024676/, diakses tanggal 22 Juni 2009).

The Revised WHO/UNICEF Recommendation For The Clinical Management of Acute Childhood Diarrhea

Oleh: dr. Yuliana

Beberapa waktu lalu, yaitu tanggal 25-27 Mei 2009 telah diselenggarakan Asian Conference on Diarrhoeal Disease and Nutrition (ASCODD) XII, bertempat di Yogyakarta, Indonesia. Dengan menghadirkan pembicara-pembicara dari berbagai negara, antara lain Bangladesh, Filipina, Hongkong, Thailand, Afrika Selatan, Amerika Serikat, Jepang, dan juga dari Indonesia sendiri, pertemuan ilmiah ini membahas masalah-masalah yang berkaitan dengan diare dan nutrisi pada anak dari berbagai pandangan. Salah satunya adalah rekomendasi dari WHO/UNICEF untuk manajemen klinis diare akut pada anak.

Formula Baru ORS (tahun 2004) yang disarankan adalah:

Picture1

Dalam topik yang berjudul “Global Progress in Implementing The Revised WHO/UNICEF Recommendation For The Clinical Management of Acute Childhood Diarrhoea”, Martin Weber, Dr. med., Ph.D., DTM&H menyampaikan berbagai penelitian yang menghasilkan 2 kebijakan terbaru, yaitu penggunaan Oral Rehydration Solution (ORS/oralit) dengan formula baru, yaitu dengan osmolaritas yang lebih rendah menggantikan ORS formula lama, serta penggunaan zinc sebagai essential drug dalam penatalaksaan diare akut pada anak.

Berdasarkan penelitian, dengan ORS formula baru ini dapat mengurangi 25-30% jumlah feces yang keluar dan volume cairan yang hilang selama diare. Selain itu kejadian vomiting (muntah), yang umumnya menyertai diare juga menurun sampai 30%, dan kebutuhan akan pemberian cairan melalui jalur intravena juga menurun lebih dari 30%.

Sedangkan untuk penggunaan zinc dalam terapi diare akut, berdasarkan Zinc Investigators’ Collaborative Group (AJCN, 2000), pemberian zinc dapat menurunkan durasi diare akut sebesar 15% dan durasi diare persisten sebesar 24% serta dapat menurunkan angka kegagalan terapi atau kematian pada diare persisten sebesar 42%. Suplementasi zinc selama 10-14 hari memberikan efek jangka panjang terhadap kejadian sakit pada anak selama 2-3 bulan setelah terapi. Pemberian zinc akan menurunkan prevalensi diare sebesar 34% dan insiden pneumoni sebesar 26% (Pediatrics, 1999). Pemberian zinc yang disarankan adalah sebesar 10-20 mg/hari selama 10-14 hari.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.